Seperti diketahui Joko Widodo (Jokowi) yang hanya didukung PDIP dan Gerindra ternyata mengalahkan Fauzi Bowo (Foke) dalam Pilgub DKI. Sedangkan Foke didukung semua parpol koalisi plus sejumlah partai kecil.
Menurut anggota Dewan Pembina Partai Gerindra Martin Hutabarat, parpol besar tak ingin terus kehilangan muka. Sehingga ingin mempertahankan aturan yang ada untuk meminimalisir munculnya capres alternatif yang berpotensi meneruskan fenomena Jokowi di Pilpres 2014.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Martin, jika syarat pencapresan diturunkan sedikit saja maka akan menambah jumlah capres di Pilpres 2014. Belajar dari fenomena Jokowi, hal ini dihindari partai besar.
"Jokowi kemarin dicalonkan oleh PDIP dan Gerindra berhasil menjadi Gubernur DKI karena syarat pencalonannya hanya 15 persen suara anggota DPRD DKI," katanya.
Padahal, menurut Martin, revisi UU Pilpres adalah pintu masuk membuat perubahan. Sebenarnya partai-partai besar tidak perlu berlebihan khawatirnya untuk memperbaiki UU Pilpres sekarang ini,
"Karena tujuannya adalah untuk perbaikan. Fenomena Jokowi tidak tepat harus ditakuti. Rakyat merindukan pemimpin yang merakyat dan tidak korupsi. Kerinduan terhadap tipe pemimpin seperti itulah yang menghantar kemenangan Jokowi dalam Pilgub DKI minggu lalu," katanya.
"Sehingga harapan masuarakat agar revisi UU Pilpres bisa membuka peluang bagi munculnya capres alternatif, untuk dipilih rakyat, jangan sampai terjegal karena ketakutan partai besar terhadap sindrom Jokowi," tandas Martin.
(van/nrl)










































