83 Hektar Ladang Ganja Ditemukan di Aceh dalam 2 Pekan

83 Hektar Ladang Ganja Ditemukan di Aceh dalam 2 Pekan

Andri Haryanto - detikNews
Jumat, 28 Sep 2012 15:39 WIB
83 Hektar Ladang Ganja Ditemukan di Aceh dalam 2 Pekan
Jakarta - Dalam tempo 2 pekan, Polda Aceh dan Badan Narkotika Nasional (BNN) menemukan 83 haktar ladang ganja di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Temuan ini menguatkan Aceh masih menjadi wilayah nomor wahid sebagai pemasok cannabis sativa.

"Aceh masih nomor satu, disusul kawasan Madina (Mandailing Natal, Sumut)," kata Deputi Pengejaran dan Penindakan, Brigjen Pol Benny J Mamoto, kepada detikcom, di lokasi ladang ganja, Pegunungan Seulawah, Desa Pulo, Kampung Lamteuba, Kecamatan Seulimum, Kabupaten Aceh Besar, Kamis (27/9/2012).

Terhitung sampai dengan tanggal 22 September 2012, operasi gabungan yang dilakukan Direktorat Narkotika Polda Aceh dan BNN, didapati 83,5 hektar ladang ganja yang tumbuh subur dan siap panen di wilayah Aceh. Letak ladang bervariasi, dari mulai dekat perkampungan warga sampai dengan puncak lerang pegunungan di Aceh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Terhitung sampai tanggal 22 kemarin, itu sudah 83,5 hektar," ujar Benny.

Dua titik yang dikunjungi detikcom dengan luas masing-masing adalah delapan hektar dan tiga hektar ladang ganja. Ribuan pohon tanaman ganja dengan ketinggian rata-rata dua hingga tiga meter tumbuh subur di pegunungan yang masih didiami gajah dan harimau. Pola penanaman meski tidak terbilang rapih, namun untuk penempatan pohon yang dimungkinkan untuk dilakukan penyerbukan ditempatkan tidak jauh satu dengan lainnya.

Dari luasan tersebut dapat dibayangkan berapa ton yang dapat dihasilkan bila asumsi perhitungannya adalah satu kilogram ganja kering didapat dari tujuh pohon, dan satu hektar dapat menghasilkan 7 ribu sampai dengan 8 ribu pohon ganja.

Dari beberapa lokasi yang ditemukan, jelas Benny, tentu menjadi motif sendiri untuk menglebuli petugas. Ladang yang berada di ketinggian sekitar 1.200-an mdpl, dia mencontohkan, ditanam jauh dari pemukiman masyarakat dengan pencapaian yang tidak mudah. Siapapun yang menuju ke ladang tersebut harus menempuh perjalanan dua jam lebih dengan permukaan lereng yang curam dan licin.

"Mereka mempelajari cara kerja petugas dan mereka mencoba menghindar, mempersulit dari jangkaun petugas. Maka mereka mencari lokasi-lokasi yang sulit dijangkau. Ladang ini (Pegunungan Seulawah) kalau dari darat tidak akan kelihatan, harus dari atas," ujarnya.

Benny menambahkan, dengan kontur tanah yang gembur dan curah hujan cukup membuat Peugunungan Seulawah subur bagi tumbuh berkembanganya ganja.

"Hutan lindung yang ditebang pohonnya, tanahnya masih subur, tidak perlu dipupuk," terangnya.
Operasi pemberantasan ladang ganja di Aceh, jelas Benny, akan terus dilakukan pihaknya bekerjasama dengan Direktorat Narkoba Polda Aceh. "Kami akan mengintensifkan ini sampai 2013," ujarnya.

Pembasmian yang langsung menyasar sumbernya diyakini lebih efisien dan murah ketimbang penyelidikan yang sudah kadung ada di pasaran narkotika.

"Kita targetkan untuk membasmi di sumbernya. Karena, lebih jauh murah, efisien sumbernya kita basmi daripada terlanjur beredar di pasar. Contoh, kita untuk menyelidiki ganja satu ton, biayanya hampir sama dengan nyerbu ladangnya," paparnya.

(ahy/aan)


Berita Terkait