Menurut Hanif, banyak faktor penyebab tawuran remaja, salah satunya karena memudarnya keteladanan para elite di tengah masyarakat.
"Terlebih elit masyarakat kerap mempertontonkan intoleransi sosial. Sehingga dengan atau tanpa disengaja banyak berpengaruh terhadap aksi dan tindakan brutal para pelajar atau remaja," papar Hanif yang juga Ketua Umum DKN Garda Bangsa, organisasi sayap Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini, dalam siaran pers, Kamis (27/9/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dimana kekerasan yang ditimbulkan akan melahirkan kekerasan berikutnya," jelas Hanif.
Faktor lainnya adalah lemahnya penanaman nilai pendidikan karakter di sekolah. Pendidikan moral dan agama mendapatkan tempat yang tidak proporsional dan terlampau sedikit dibandingkan pelajaran lain.
"Ironisnya, pendidikan moral keagamaan hanya bersifat formalistik, sanngat terbatas dan hanya menjejalkan pengetahuan nilai tanpa mengarah ke pembentukan karakter," kritiknya.
Ditinjau dari segi usianya, pelajar yang sedang menempuh pendidikan di SLTP maupun SLTA memang sedang mengalami periode yang kurang stabil. Pada fase ini, pelajar atau remaja sering digambarkan sebagai topan dan badai yang mudah tersulut emosi dan mengalami tekanan jiwa.
"Dalam situasi konflik dan problem ini remaja tergolong dalam sosok pribadi yang tengah mencari identitas dan membutuhkan tempat penyaluran kreativitas. Jika tempat penyaluran tersebut tidak ada atau kurang memadai, mereka akan mencari berbagai cara sebagai penyaluran. Salah satu eksesnya, yaitu tawuran,"lanjut Hanif.
Selain hal-hal tersebut diatas, ruang berkreasi bagi para pelajar untuk menyalurkan hobi, bakat dan minatnya justru sangat terbatas dan tergerus oleh hiruk pikuk bisnis. Dia memandang perlu adanya tindakan para elit masyarakat dan pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggung jawab untuk melakukan upaya-upaya, diantaranya menghadirkan figur yang baik dan mentradisikan sikap santun, sebagai contoh dan suri tauladan bagi para remaja demi terciptanya suasana harmonis, toleran, saling menghormati dan mengsihi antar sesama.
"Kami juga mendesak pemerintah dalam hal ini Kemendikbud untuk membuat kebijakan-kebijakan di sekolah yang disertai dengan sistem pengawasan intensif dan terukur untuk mencegah dan menghentikan praktik bullying disekolah. Yang tidak kalah penting, kami mendorong lembaga pendidikan/sekolah untuk memperkuat pendidikan karakter dan budi pekerti yang berorientasi pada pembentukan sikap dan perilaku," tandasnya.
(van/rmd)










































