Warga Kecam Tes Pegawai Pemprov DKI Pakai Baju Renang
Selasa, 07 Sep 2004 10:25 WIB
Jakarta - Bagaikan seleksi Miss Universe, seleksi penerimaan calon Pegawai Tidak Tetap (PTT) untuk ditempatkan sebagai Polisi Pamong Praja (Banpol) di Pemprov DKI Jakarta, diwarnai dengan tes dengan memakai pakaian renang bagi pelamar perempuan. Tak ayal, sejumlah warga Jakarta pun terperanjat."Saya menyesalkan kabar itu, itu sama saja dengan pelecehan," komentar Ratna (32), karyawati swasta di bilangan Jl.Hang Jebat III, Jaksel, pada detikcom, Selasa (7/9/2004).Hal senada diungkapkan Endah, warga Priok. "Itu jelas pelecehan," komentarnya geram. Erian, pria berusia 30 tahun, menilai bahwa tes dengan memakai baju renang tidak ada relevansinya. "Kalau jadi pramugari atau model, masih ada relevansinya," komentarnya.Harian Warta Kota edisi hari ini melaporkan, puluhan wanita mengaku menjadi korban pelecehan seksual oleh petugas saat mereka menjalani tes penerimaan calon PTT pada Senin kemarin (6/9/2004)."Kami kaget dan sempat teriak juga soalnya kami tahunya cuma pakai traning aja. Tiba-tiba untuk tes terakhir yang disebut tes raga, kami disuruh pakai baju renang. Terus yang ngetes laki-laki lagi. Yang bikin kesel, nggak tahunya entah sengaja atau enggak, petugas itu nyuruh narik pakaian renang yang sudah sebatas paha ke atas lagi mendekati bagian yang sensitif," tutur Santi, bukan nama sebenarnya. Pakaian renang yang dipakai peserta tes disediakan panitia, sehingga mereka memakai secara bergantian. Untuk satu gelombang/rombongan, jumlah wanita yang dites memakai pakaian renang adalah 40 orang. Mereka disuruh maju dua-dua ke depan pengetes yang semuanya pria."Sebenarnya malu campur sebel. Memang pakaian renangnya bukan yang you can see, ada tangannya, tapi tetap aja yang bawah pendek. Abis itu disuruh naik-naikin biar keliatan semua paha kita. Tapi mau gimana lagi, daripada nggak lulus," cerita Mia, juga nama samaran.Tidak semua peserta tes bersedia ikut tes aneh itu. Misalnya saja Rt (22) yang memakai jilbab. Karena menolak, salah seorang petugas seleksi mengatakan bahwa Rt dinyatakan gagal. Warta Kota menulis, Kepala Bidang Pengadaan BKD DKI Jakarta Budi Astuti, yang bertugas mengurusi teknis penerimaan PTT, menjelaskan, dalam tes fisik memang ada tes postur. Tapi yang mengetes bukan laki-laki, resmi dari Jasdam Kodam Jaya, bukan pegawai DKI. "Yang mengetes itu wanita. Saya yakin karena itu di bawah kontrol kita," tegas Budi. Budi tidak percaya terhadap fakta di lapangan bahwa yang mengetes adalah kaum pria.Sementara, Kahumas Pemprov DKI Jakarta, Muhayat, saat ditanya mengenai berita itu, menyatakan pihaknya akan merekonfirmasi kabar itu. "Itu kan informasi yang belum diketahui kebenarannya. Saya akan cek dulu," katanya pada detikcom, hari ini pukul 10.00 WIB.
(nrl/)











































