Protes itu bahkan sudah dituangkan dalam petisi penolakan sirkus lumba-lumba. Hingga bulan ini, pendukungnya sudah mencapai 80 ribu orang.
"Ada yang bilang lumba-lumba di sirkus itu untuk konservasi, tapi kami menganggap ini hanya pure bisnis semata," kata Ketua Jakarta Animal Aid Network (JAAN) Indonesia, Pramudya, saat berbincang dengan detikcom, Kamis (27/9/2012)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di negara lain ditutup karena kejam, berpindah dari satu kota ke kota lain. Jadwal shownya juga banyak, bisa sampai tujuh kali sehari," jelasnya.
Berdasarkan penelusuran JAAN, ada sejumlah praktik jahat yang dilakukan pengelola sirkus keliling. Pertama, air yang digunakan untuk show lumba-lumba bukan murni air laut, tapi air tawar yang diberi garam dan cairan kimia.
"Kita sudah ambil sampel dan dikirim ke UGM, cairannya cenderung membutakan. Jangankan lumba-lumba, pekerjanya sendiri juga terancam," paparnya.
Selain itu, lumba-lumba juga bisa stres karena terus berpindah kota. Perawatan kesehatan mereka pun seadanya. "Kalau mati mereka tinggal cari lagi di laut. Begitu seterusnya," imbuh Pram.
Karena itu, pemerintah harus turun tangan melakukan penindakan dan pengawasan terhadap praktik ini. Kementerian terkait, khususnya yang bertugas menjaga kelestarian hewan langka harus turun tangan.
"Satwa dilindungi harus ada surat angkut transportasi dalam negeri, di sini peran pemerintah. Namanya hewan dilindungi harus diawasi, tapi ini tidak," ujarnya.
Pram memastikan sirkus ini masih beredar di kawasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Ada lima perusahaan yang 'bermain' dalam bisnis ini. "Terakhir kita dapat laporan mereka ada di Bantul," imbuh Pram.
Sejumlah perusahaan besar mendukung perjuangan pecinta binatang tersebut. Misalnya Garuda Indonesia dan Carrefour, dengan tidak lagi mensupport acara sirkus yang melibatkan lumba-lumba itu.
(mad/nrl)











































