"Berdasarkan hasil survei diperoleh banyak pecahan tembikar, pecahan keramik asing, mata uang kepeng, jobong atau sumur kuno, yoni, tugu batu, dan struktur bata kuno yang menyerupai bentuk tembok dan pintu gerbang," kata arkeolog UI, Ali Akbar dalam keterangannya, Rabu (26/9/2012).
Eskavasi kawasan Trowulan ini dilakukan sejak 16 September hingga 29 September. 4 Universitas yang terlibat yakni UI, UGM, Unhas, dan Unud.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Trowulan, lanjut Ali, memang dikenal sebagai kawasan yang menyimpan banyak peninggalan dari periode Kerajaan Majapahit yang pernah jaya pada sekitar abad ke 14 Masehi.
"Sejak zaman penjajahan Belanda sampai sekarang, temuan yang diperoleh di Trowulan seakan tidak pernah ada habis-habisnya. bahkan ada indikasi kuat kawasan ini berkali-kali dihuni dari periode yang berbeda beda," ungkapnya.
Ali menceritakan pada saat ekskavasi misalnya, diperoleh struktur bata kuno yang diperkirakan sebagai pondasi bangunan. Setelah diperdalam di bawah pondasi tersebut ternyata ditemukan lagi struktur bangunan lain dari periode yang berbeda.
"Pepatah umum mengatakan "Di atas langit ada langit". Kalau di Trowulan, pepatah yang tepat mungkin "Di bawah pondasi ada pondasi"," ungkapnya.
(ndr/van)











































