"Fahd bukan staf khusus saya, bukan staf ahli saya," kata Priyo kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (26/9/2012).
Priyo mengenal Fahd hanya sebagai kader Golkar dan ormas MKGR. Dia menegaskan tak pernah mempekerjakan Fahd sebagai staf.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam persidangan Selasa (25/9) kemarin, Wa Ode menceritakan kisah pertemuannya dengan Fahd. Wa Ode menuturkan saat sedang rapat panja November 2010, salah seorang stafnya memberitahu ada seseorang yang mengaku staf Priyo hendak bertemu. Orang itu adalah Fahd.
Di dalam pertemuan itu, Fahd yang ditemani Haris Surahman memperlihatkan satuan tiga DPID. Informasi yang disampaikan Fahd menggambarkan bagaimana sebuah daerah mendapat alokasi dana.
Beberapa waktu usai pertemuan itu, melalui Haris, Fahd memberikan uang Rp 2,25 miliar kepada Wa Ode via sekretarisnya Sefa Yolanda. Namun Wa Ode menolak dan meminta Sefa mengembalikannya kepada Haris. Wa Ode menduga pemberian uang itu berkaitan dengan dana DPID.
Wa Ode menceritakan, kasus ini justru berujung pelaporan dirinya ke Fraksi PAN. Saat dipanggil Wa Ode mengaku sudah mengembalikan semuanya. Namun, menurut Wa Ode, dia 'dipaksa' mengembalikan lagi sehingga totalnya menjadi Rp 5,5 miliar.
Alasan lain kenapa fraksi justru membela Fahd, masih menurut Wa Ode, justru karena figur Priyo. Fahd memang terus mengaku sebagai staf Priyo.
"Saya menghormati partai. Selalu yang dihormati partai adalah nama baik Priyo karena dia adalah Wakil Ketua DPR dan Fahd adalah orangnya dia (Priyo)," kata Wa Ode dalam persidangan kemarin.
Fahd sendiri sudah membantah pernah menjadi staf khusus Priyo. "Kalau staf khusus itu kan harus ada SK. Saya bukan staf khusus, saya bukan staf ahli, bukan staf khusus," kata Fahd juga dalam persidangan kemarin.
(trq/rmd)











































