Basarah menyebut Prabowo lebih banyak mendapatkan keuntungan popularitas dari kemenangan Jokowi dibandingkan PDIP. Padahal, dalam upaya pemenangan Jokowi, menurutnya, PDIP bekerja lebih keras dibandingkan Gerindra dan Prabowo.
"Inikan seperti telur mata sapi, ayam yang bertelur sapi yang dapat nama," kata Basarah kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (26/9/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau bicara efek Jokowi itu seharusnya ke PDI Perjuangan. Karena Jokowi ini bukan kader yang direkrut di tengah jalan. Dia kader kami sudah sejak lama. Karena itu, Pak Taufiq berfikir bahwa ini bukan kerjasama yang simbiosis mutualisme," paparnya.
Lebih jauh, Basarah mengatakan bahwa partainya akan mengevaluasi koalisi dengan Gerindra. Dia menilai koalisi yang terjalin tidak efektif untuk kebaikan PDIP.
"Ini pertama kalinya kami menurunkan tiga pilar partai kader di struktur partai, kader di legislatif dan kader di eksekutif diturunkan semua ke Jakarta, hanya kami saja. Justru dengan pengalaman itu kami mengevaluasi kerjasama itu tidak efektif," imbuhnya.
Prabowo memang disebut-sebut mengambil keuntungan dari kemenangan Jokowi dalam Pilgub DKI. Berdasarkan hasil survei SMRC yang dirilis usai putaran kedua Pilgub DKI, popularitas Prabowo melampui popularitas capres lainnya.
Berikut hasil survei SMRC menyangkut Pilpres 2014:
Prabowo 19,1 persen
Megawati 10,1 persen
Aburizal Bakrie 10 persen
Jusuf Kalla 6,5 persen
Dahlan Iskan 5,6 persen
Hidayat Nurwahid 5,2 persen
Sultan HB X 4,9 persen
Hatta Rajasa 3,7 persen
Sutiyoso 3 persen
Wiranto 1,9 persen
Sri Mulyani 1,6 persen
Anas Urbaningrum 1,5 persen
Mahfud MD 1,4 persen
Djoko Suyanto 1,1 persen
Surya Paloh 1,1 persen.
(trq/aan)











































