Kalla Safari ke NTB-NTT
Senin, 06 Sep 2004 17:17 WIB
Bima - Mendekati pilpres 20 September, Jusuf Kalla safari ke NTB dan NTT. Di NTB, Kalla dinobatkan sebagai warga kehormatan Kesultanan Bima. Penobatan ditandai dengan pemberian pakaian sultan oleh Siti Maryam Salahuddin mewakili keluarga kesultanan.Penobatan dilakukan dalam acara Silaturahmi dengan Kesultanan Bima di Pulau Sumbawa, NTB, Senin (6/8/2004).Kalla didampingi politisi PAN AM Fatwa dan politisi PBB, Hamdan Zoelva. Kedatangan mereka disambut tari-tarian tradisional. Setelah penobatan, Kalla meninjau museum yang berada di sekitar kesultanan. Dalam sambutannya, Kalla merasa mendapat kehormatan atas penobatan dirinya. Dikatakannya juga, ada hubungan kekerabatan antara Kesultanan Bima dengan Kesultanan Gowa dan Bone di Sulsel."Setelah mengelilingi daerah, saya yakin akan 2 hal. Begitu banyak perbedaan kebudayaan dan agama, tapi dalam perbedaan itu, kita harus bersatu untuk mencapai tujuan," kata pasangan SBY ini.Setelah itu, Kalla meneruskan perjalanan ke Museum Saparaja yang jaraknya tak jauh dari Kesultanan Bima. Kantas Kalla ke DPD PKS Kab.Bima yang letaknya di depan musem. Di sana Kalla mendengarkan pernyataan dukungan warga PKS setempat untuk pilpres 20 September.Kalla lantas menghadiri deklarasi Koalisi Kerakyataan di Lapangan Atletik Manggemaci, yang dihadiri ratusan warga Mbojo dan Ikatan Alumni Makassar. Mereka menyatakan dukungan pada Kalla.Kalla juga mampir ke Ponpes Al Husaini untuk silaturahmi. Dari Bima, lantas Kalla dkk terbang ke Kec.Maumere Kab Sikka, Provinsi NTT. Di sini, Kalla mampir ke rumah bendahara DPC Partai Demokrat. Dalam kesempatan itu, ada tanya jawab antara Kalla dan simpatisannya.Mereka mempertanyakan pembangunan kawasan timur Indonesia, mengapa kalah dengan wilayah barat. Kalla menjelaskan, ada empat kelemahan pokok mengapa pembangunan di timur kalah dengan yang di barat. Pertama, sentralistik, semua harus diurus pusat. Kedua, infrastruktur yang tidak dibangun di timur sehingga banyak yang lari ke Jawa. Ketiga, SDM terutama pendidikan. Keempat, faktor niaga. "Misalnya semua hasil pertanian diurus oleh Jakarta untuk kepentingan industri yang pabriknya di Jawa," kata Kalla.Kalla juga mengingatkan pentingnya peran saksi pada pilpres kedua. "Kalau pada pilpres pertama kita tidak punya saksi, masih ada empat saksi lain yang turut menghitung. Tapi kalau pilpres kedua, tidak bisa karena pesertanya hanya dua. Karena itu saksi mutlak sekali," demikian Kalla.
(nrl/)











































