"Prabowo bisa cukup berat peluangnya, karena Gerindra harus bisa melewati Presidential Threshold yang untuk saat ini cukup tinggi. Tahun 2009 lalu Prabowo ingin nyapres tapi kemudian hanya maju sebagai cawapres karena terganjal Presidential Threshold," kata pengamat politik M Qodari kepada detikcom, Selasa (25/9/2012).
Menurut Qodari, popularitas Prabowo memang paling tinggi saat ini. Namun bisa menjadi masalah jika nanti perolehan suara Gerindra tidak signifikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun Partai Gerindra bersama sejumlah partai seperti PKS, PAN, PPP mendorong agar syarat pencapresan dipermudah. Dorongan ini memang diperlukan juga untuk memunculkan banyak capres alternatif di 2014. Gerindra juga akan menjalin koalisi untuk Pilpres 2014.
"Kita berkoalisi, koalisi terbaik adalah yang memunculkan figur yang bisa menentukan perbaikan. Dalam soal DKI, yang paling diuntungkan bukan PDIP dan bukan Gerindra tapi rakyat Jakarta," kata Wakil Ketua Umum Gerindra, Fadli Zon.
Pandangan senada disampaikan Sekjen Gerindra Ahmad Muzani. Muzani berharap koalisi dengan PDIP bisa dijaga sampai Pilpres 2014.
"Kami memahami omongan Pak Taufiq itu sebagai nasihat orang tua. Untuk 2014 saya kira masih cukup potensial untuk berkoalisi dengan PDIP," tegas Muzani merujuk pernyataan Taufiq bahwa PDIP kapok berkoalisi dengan Gerindra.
Sementara itu tadi pagi Taufiq Kiemas bertemu Waketum PD Max Sopacua. Keduanya membahas peluang koalisi PDIP-PD. Koalisi PD-PDIP memanas karena survei SMRC membuktikan bahwa kemenangan Jokowi di Pilgub DKI lebih menguntungkan Prabowo Subianto ketimbang Megawati Soekarnoputri.
Sementara organisasi sayap PDIP mulai berontak. Masinton Pasaribu, Ketua Umum Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) yang merupakan organisasi sayap PDIP menilai koalisi PDIP-Gerindra untuk mencapreskan Prabowo Subianto di Pilpres 2014 mustahil.
(/)










































