Mendikbud: Tawuran SMA 70 & SMA 6 Harus Jadi yang Terakhir

Mendikbud: Tawuran SMA 70 & SMA 6 Harus Jadi yang Terakhir

Pandu Triyuda - detikNews
Selasa, 25 Sep 2012 15:39 WIB
Mendikbud: Tawuran SMA 70 & SMA 6 Harus Jadi yang Terakhir
Jakarta - Tawuran antara siswa SMAN 6 dan SMAN 70 berujung pada tewasnya siswa SMA 6, Alawy Yusianto Putra. Mendikbud Muhammad Nuh menegaskan kasus ini harus menjadi yang terakhir, tidak boleh terulang lagi.

"Pada hari ini kami, Pak Gubernur (Fauzi Bowo), kepala dinas pendidikan, kepala sekolah kedua pihak bertekad menjadikan kasus ini yang terakhir. Kita tidak ingin mendengar cerita kekerasan lagi antara SMA 70 dan SMA 6. Kita ingin menjadikan kedua sekolah ini menjadi sekolah unggulan dan harmonis," ujar Nuh saat menggelar jumpa pers di ruang Audiovisual SMA Negeri 6, Jl Mahakam, Bulungan, Jakarta Selatan, Selasa (25/9/2012).

Nuh memberikan dukungan penuh kepada kedua sekolah untuk menjelaskan program-program keharmonisannya. Menurutnya, pemerintah, Pemprov DKI dan pimpinan kedua sekolah tidak ingin konflik antar siswa kedua sekolah ini berterusan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami tidak ingin terjadi seperti antara Israel dan Palestina. Kita minta dua-duanya stop. Kita tutup mulai hari ini. Mulai hari ini kita beri dukungan penuh terhadap kasus ini," tuturnya.

Tawuran antara siswa SMAN 6 dan SMAN 70 Jakarta pecah di kawasan Bulungan - tak jauh dari Blok M Plaza - pada Senin (24/9) kemarin. Tawuran ini menyebabkan Alawy, siswa SMA 6 kelas X berusia 15 tahun, tewas akibat kena bacok di bagian dada.

Menurut saksi mata ketika tawuran pecah, Alawy sedang makan gulai di tikungan Bulungan (gultik). Dia lantas lari menyelamatkan diri bersama teman-temannya. Malang, dia terjatuh di depan KFC Bulungan dan langsung mendapat sabetan celurit di dadanya. Remaja kelahiran 1997 itu pun meninggal dunia.

Jarak SMA 6 dan SMA 70 hanya berjarak 300 meter. Siswa kedua SMA unggulan itu beberapa kali terlibat tawuran.

(rmd/nrl)


Berita Terkait