Panglima TNI dan KSAD Asean Bahas Terorisme
Senin, 06 Sep 2004 12:05 WIB
Jakarta - Panglima TNI Jederal E.Sutarto bertemu dengan para Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) negara-negara Asia Tenggara (Asean). Dalam pertemuan itu, dibicarakan masalah ancaman dan bagaimana menangani terorisme.Pertemuan dimulai pukul 08.00 hingga 10.00 WIB di Hotel Hilton, Jl.Sudirman, Jakarta, Senin (6/9/2004). Yang hadir adalah KSAD Malaysia Datuk Sri Pahlawan Mohammad Azumi bin Mohammad, KSAD Thailand Chaisiv Sinawatra, KSAD Filipina Efhen L.Abu, KSAD Singapura Desmon Kwek, KSAD Laos Kenekham Sheng Yaph Orn.Juga ada KSAD Brunai Yon Pehin Orang Kaya Sri Pahlawan Kolonel Datuk Paduka Abdurrahman, KSAD Kamboja Meas Sopheas, KSAD Myanmar Maung Aye, KSAD Vietnam Nguyen Nang Nguyen, dan KSAD Indonesia Ryamizard Ryacudu.Usai pertemuan, Panglima TNI menyatakan, kegiatan itu rutin setiap tahun dilakukan dan bergantian tempatnya. Pertemuan ini merupakan bentuk kerjasama AD di Asia Tenggara, termasuk untuk meningkatkan kemampuan.Juga dibicakaran bagaimana mencari solusi untuk mengatasi persoalan regional. "Dibicakan juga terorisme, karena jangan sampai peristiwa seperti di Rusia terjadi. Karena bagaimana pun teroris itu punya link yang sangat luas. Contohnya bila terjadi aksi terorisme di Indonesia, basis latihan ada di negara lain, " papar Tarto. Selain itu juga dibicarakan soal penyelundupan senjata ilegal di beberapa negara di Asia Tenggara.TerorisKSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu juga menyatakan, Panglima TNI datang untuk mengucapkan selamat datang pada tamunya. "Memang dalam pertemuan itu ada motto untuk meningkatkan solidaritas dan profesionalisme tentara di masing-masing negara. Kita sebagai aparat keamanan masing-masing mengamankan negaranya. Karena musuh kita terkuat saat ini adalah teroris," urai Ryamizard.Menurutnya, dua tahun lalu di Singapura, dia dkk sudah membicarakan masalah bahaya terorisme. Juga tahun lalu di Malaysia. "Bukan hanya bahayanya, tapi kita juga ikut menangani terorisme. Kalau di Indonesia, sudah kita tindak lanjuti dengan membenuk 10 batalyon riders, pasukan gerilya antigerilya untuk menumpas kelompok separatis bersenjata dan teroris," urai Ryamizard."Untuk saat ini, dari pertemuan ini yang ingin kita capai adalah tukar menukar informasi, lalu ada latihan posko tahap pertama bila ada teroris di negara masing-masing. Misalnya di Indonesia, kita tidak mau disebut sebagai sarang teroris oleh orang-orang luar. Kalau soal pertahanan, kewajiban negara masing-masing. Kita tidak mau negara lain ikut campur," demikian Ryamizard.
(nrl/)











































