Sutjipto: SBY Kebakaran Jenggot

Sutjipto: SBY Kebakaran Jenggot

- detikNews
Sabtu, 04 Sep 2004 17:12 WIB
Ciloto - Capres Susilo Bambang Yudhoyono kebakaran jenggot! Itu yang dikatakan Sekjen PDI-P Sutjipto menanggapi manuver-manuver yang dilakukan saingan kuat Presiden Megawati Soekarnoputri dalam pilpres tahap II 20 September 2004 nanti.Ihwal kebakaran jenggotnya SBY, panggilan akrab capres dari Partai Demokrat itu disampaikan Sutjipto saat membuka Rapat Kerja Daerah (Rakerda) PDI-P Jabar di Ciloto Puncak, Sabtu (4/9/2004).Menurut Pak Tjip, panggilan akrab tokoh PDI-P asal Surabaya ini, jawaban-jawaban SBY menanggapi balasan yang disampaikan pihaknya, mirip dengan orang kebakaran jenggot. "Misalnya, Pak SBY berusaha mencitrakan dirinya itu sebagai orang yang teraniaya, didzalimi oleh Bu Mega semasa ikut di kabinet. Saya katakan, bukan Bu Mega yang mendzalimi Pak SBY, tetapi justru dia yang mendzalimi Bu Mega. Masa, presiden yang mengangkatnya jadi pembantunya justru ditinggalkan. Padahal sewaktu dia diangkat kan sudah bersumpah untuk menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya," tutur Sutjipto panjang lebar.Padahal, menurut Pak Tjip, jika kejadian itu terjadi dalam hirarkhi kemiliteran itu berarti desersi. Dan hukuman bagi seorang desertir dalam militer adalah tembak di tempat. "Tapi oleh media massa, konteks militernya sering tidak dikutip, sehingga yang muncul adalah harus tembak di tempatnya saja," katanya sambil tertawa.Dalam pandangannya, jawaban itu ternyata sempat membuat SBY kebakaran jenggot. Belum lagi, ucapan SBY yang kemudian dijawab oleh Megawati soal koalisi, dukungan dan kerja sama dengan parpol. SBY mengatakan akan menggalang koalisi dengan rakyat. "Padahal parpol itu adalah pilar utama penegakan demokrasi. Dia kemudian ralat sendiri ucapannya. Itu bukti, dia kebakaran jenggot," tutur Pak Tjip lagi.Namun terlepas dari urusan menilai orang kebakaran jenggot atau tidak, Sutjipto tampaknya juga tidak ingin kebakaran jenggot gara-gara para kadernya sendiri. Diakuinya, bahwa kualitas kader-kader PDI-P produk Pemilu 1999 memang tidak terlalu bagus. Baik secara intelektual, maupun kondisi sosial ekonominya."Itu bisa dipahami, karena pada masa itu memang tidak ada kader yang lebih bermutu yang bersedia menjadi anggota PDI-P. Takut tidak dipromosikan, tidak dapat proyek atau apa. Jadi, kader yang masuk saat itu memang seadanya," paparnya.Walhasil, jika kemudian masyarakat banyak menyoroti kinerja para kader PDI-P produk Pemilu 1999 itu, menurutnya merupakan suatu kewajaran. Walhasil, dalam Pemilu legislatif 5 April 2004 lalu memang ada penurunan."Tetapi, kalau dilihat dari pilpres tahap I, yang memilih Ibu Megawati ternyata mengalami peningkatan tajam. Itu berarti, kepercayaan kepada beliau tetap tinggi," katanya optimis.Karena itu, mungkin sebagai satu cara atau bukti untuk mendisiplinkan para kadernya itu sendiri, Sutjipto sampai meminta daftar hadir Rakerda itu untuk dianalisis. Pengurus DPD PDI Jabar, dari Ketuanya Rudi Harsa Tanaya dan jajarannya sampai sempat diminta berdiri untuk dihitung. Ternyata hanya ada 12 pengurus DPD Jabar saja yang hadir."Jajaran DPC-DPC nanti juga harus dicek. Apakah Ketua dan Sekretarisnya hadir dalam acara ini. Kalau sampai tidak hadir tanpa alasan yang jelas, DPD harus memberikan surat peringatan atau sanksi," imbuhnya.Dari Jabar, berdasarkan data yang ada terdapat 163 kader PDI-P di DPRD II, 19 orang di DPRD I Jabar dan 18 orang ke DPR-RI di Jakarta.Rakerda PDI-P Jabar rencananya berlangsung selama 2 hari dengan agenda utama membahas strategi pemenangan Megawati. Namun di agenda acara juga tertera satu acara, Penjelasan Untuk Mendapatkan Kredit Lunak Tanpa Agunan.Wah, apalagi nih ? (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads