Meski Ada Koalisi Kebangsaan, Mega Belum Tentu Menangi Riau

Meski Ada Koalisi Kebangsaan, Mega Belum Tentu Menangi Riau

- detikNews
Sabtu, 04 Sep 2004 15:40 WIB
Pekanbaru - Koalisi Kebangsaan tempat berkumpulnya partai-partai besar diharapkan dapat meloloskan Mega-Hasyim untuk menduduki kursi presiden dalam pilpres putaran kedua nanti. Tapi koalisi itu belum tentu banyak berpengaruh terutama pada level lokal seperti di Riau.Hal itu disampaikan pengamat politik dari Universitas Riau (Unri) Dr Alimin Siregar kepada wartawan, Sabtu (4/9/2004) di Kampus Unri, Panam, Pekanbaru. Menurutnya, Koalisi Kebangsaan itu belum tentu mampu mendulang suara bagi pasangan Mega-Hasyim di Riau. Malah bisa jadi, pasangan SBY-Kalla akan mendapat simpati dari masyarakat luas termasuk di Provinsi Riau.Alasannya, kata Alimin, Koalisi Kebangsaan itu sifatnya pragmatis, bukan sebuah koalisi yang berstruktur berdasarkan persamaan ideologi di antara partai. Koalisi itu lebih merupakan kepentingan sesaat dari pimpinan parpol untuk menyelamatkan posisi dan mengarahkan kedudukan mereka ketika Mega menang."Orang tidak terlalu terikat pada partai. Masyarakat sudah mulai melihat seperti apa sebenarnya manfaat partai itu selama ini. Jadi kekritisan masyarakat terhadap partai sudah jauh lebih menguat. Sehingga kalau pun ada semacam kebijakan di tingkat partai, massa di bawah relatif tidak akan terpengaruh," kata Alimin.Malah Alimin memprediksi, pasangan SBY-Kalla akan mendapat simpati dari masyarakat Riau. Alasannya sangat sederhana. Misalnya, telah terbentuknya opini masyarakat SBY itu tegas, berwibawa dan berjiwa kepemimpinan."Jika kemampuan mempengaruhi opini masyarakat itu dilakukan terus-menerus oleh partai melalui berbagai media, hal itu akan sangat besar pengaruhnya kepada masyarakat," kata Alimin Siregar.Karena itu, Alimin memprediksi, ada kemungkinan besar SBY yang akan lebih dominan dalam pemilihan secara nasional maupun di Riau sendiri. Apalagi kalau nantinya kubu Mega sampai salah strategi, misalnya dengan mempersulit SBY, termasuk kasus undangan HUT RI ke-59 di Istana Negara pada 17 Agustus lalu."Menurut hemat saya, gejala itu merupakan sebuah kekalahan politik yang sering kali orang lupa. Misalnya dengan mengatakan SBY tidak paham politik dan sebagainya. Pernyataan seperti itu akan melahirkan konsekuensi lain yang akan bersimpati pada orang-orang yang disakiti," ujar Alimin yang juga dosen mahasiswa S3 Unri.Masih menurut Alimin, saat ini pemilih tidak lagi dipengaruhi oleh hubungan partai. Bukinya, Golkar memperoleh suara terbanyak dalam pemilu legislatif, tapi simpatisannya tidak otomatis memilih Wiranto dalam pilpres kemarin."Kita melihat dengan jelas, dalam pilpres, simpatisan Golkar cenderung memilih SBY. Jadi seringkali pemilih itu tidak melihat pada platform program partai, tapi lebih melihat pada personifikasi orangnya," katanya. (nrl/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini