Golkar Blokir Pengaruh Kalla
Sabtu, 04 Sep 2004 14:09 WIB
Semarang - Sebagai kader Partai Golkar yang berbeda pilihan politiknya, tentu saja gerakan Jusuf Kalla sangat berbahaya. Pasangan SBY ini bisa mengambil suara kader-kader dan pengurus dalam pilpres putaran kedua. Golkar Jateng pun ancang-ancang memblokir garis pengaruh Kalla di daerahnya.Pembendungan garis komando itu dilakukan dengan mengamankan seluruh jajaran struktural untuk tetap patuh pada hasil Rapimnas yakni, mendukung Mega - Hasyim. Juga, mengoordinasikan hasil Rapimnas itu kepada seluruh underbouw-nya yakni, Soksi, Kosgoro 1957, AMPG, MKGR, dan sebagainya."Syukurlah sampai saat ini belum ada satu pun kader atau pengurus yang menyimpang. Meski demikian kami akan hati-hati kalau sampai kelompok Kalla akan mengobrak-abrik suara," kata Wakil Ketua Partai Golkar Jateng Soejatno Pedro di kediamannya, Jl. Kiai Saleh Semarang, Sabtu (4/9/2004).Pedro yang juga ketua baru Fraksi Golkar DPRD Jateng ini menyatakan, dirinya merasa yakin Kalla tak akan banyak mendapat suara di Jateng. Pasalnya, citra pengusaha asal Sulsel itu tak begitu dikenal. Sehingga patron kader Jateng kepada Kalla sangat sedikit. Bisa dihitung dengan jari."Lagipula, kami juga sudah menutup diri terhadap Kalla. Meski masih termasuk kader, tapi dia sudah dianggap menyimpang dari garis partai," terangnya.Soal penyikapan terhadap Kalla, Pedro mengatakan, harusnya DPP memberikan ketegasan sanksi. Tidak hanya sekadar ditakut-takuti saja, tapi perlu tindakan sesuai mekanisme partai. Hal yang sama uga berlaku bagi Fahmi Idris dan Marzuki Darusman."Mereka kan jelas-jelas menyimpang. Tidak rugi kok kalau harus memecat mereka. Kontribusi mereka terhadap partai juga nggak begitu banyak," tandasnya.Jika tidak ada tindakan tegas, kata Pedro, pihaknya mengkhawatirkan partai akan kehilangan momentum untuk menunjukkan kapasitasnya sebagai pemenang pemilu legislatif. Karena ketiga orang itu bisa saja mempengaruhi banyak orang di internal partai untuk membangkang.Untuk itulah, lanjutnya, pihaknya mendesak DPP memberikan sanski pada orang-orang yang tidak patuh pada keputusan partai. "Sebagai partai modern kita harus berani bersikap. Tidak hanya pikir-pikir saja," demikian Pedro.
(nrl/)











































