Aliansi Muslimah Semarang Canangkan Hari Jilbab Dunia

Aliansi Muslimah Semarang Canangkan Hari Jilbab Dunia

- detikNews
Sabtu, 04 Sep 2004 13:15 WIB
Semarang - Pelarangan penggunaan jilbab di beberapa negara mendapat respon serius dari kaum muslimah Indonesia. Di Semarang, puluhan perempuan yang menamakan Aliansi Muslimah berunjuk rasa mengutuk kebijakan itu. Mereka juga menyebut hari ini sebagai Hari Solidaritas Jilbab Internasional.Unjuk rasa dalam suasana panas ini dimulai sekitar pukul 09.30 WIB di Budaran Air Mancur Semarang, Jl. Pahlawan, Sabtu (4/9/2004). Mereka membagi-bagikan selebaran kepada pengendara yang lewat sambil membawa poster yang isinya mengecam pelarangan berjilbab.Koordiator Aksi, Retno Handayani, dalam orasinya mengatakan berjilbab adalah hak asasi umat Islam. Karena itu tidak ada alasan apa pun untuk melarang penggunaan jilbab. Pemerintah seperti Turki dan Prancis yang melarang penggunaan jilbab jelas melawan dengan HAM."Kalau sekarang beberapa pemerintah negara melarang penggunaan jilbab, mereka telah melanggar hak asasi umat islam dalam menjalankan agamanya. Kami mengutuk keras pelarangan itu," katanya di sela-sela aksi.Retno menambahkan, penggunaan jilbab bukan sekadar trend, tapi kewajiban agama. Menjalankan agama, termasuk memakai jilbab, adalah hak semua umat Islam terutama para muslimah. "Stop pengekangan HAM dengan melarang memakai jilbab dimana pun berada!" kata Retno disambut teriakan Allahu Akbar para pengunjuk rasa yang lain.Lebih lanjut Retno mengatakan, meski pemerintah Indonesia telah memberikan kebebasan dalam mengenakan jilbab, namun dalam praktek sehari-hari masih banyak pengekangan. Contohnya, masih banyak intimidasi untuk membuka jilbab sekadar untuk ijazah.Selain itu, banyak juga instansi yang meminta seseorang yang diterima sebagai karyawan baru untuk membuka jilbab. Serta, dalam melakukan rangkaian kegiatan atau persyaratan tertentu mereka juga harus membuka jibab."Saya pernah mengalami itu waktu di sekolah dulu. Contoh nyata lainnya ketika menempati sebuah posisi pekerjaan, mereka dipaksa mengorbankan jilbab sebagai identitas perempuan islam," katanya berapi-api.Dengan kondisi seperti ini, mereka akan bertekad untuk terus memperjuangkan kebebasan untuk memakai jilbab. Menurutnya, hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh umat muslim. Tak hanya di Indonesia, tapi juga di negera lainnya.Aksi berakhir pada sekitar pukul 11.00 WIB. Mereka menutup aksinya dengan membacakan pernyataan sikap dan berdoa. Kemudian mereka membubarkan diri dengan tertib. Tak tampak pengawalan polisi terhadap aksi ini. Para polisi hanya sekadar mengatur lalu lintas. (nrl/)



Berita Terkait