"Usia Pak Ical emang sekarang ini sudah di atas 60 tahun, tapi bukan berarti seperti yang disebutkan PD (iwak peyek). Banyak orang berumur sudah 40 tahun tapi jalannya susah bagaimana, di luar negeri itu banyak orang berusia 70 atau 80 tahun terpilih jadi presiden," kata Wakil Ketua FPG DPR, Ibnu Munzir, kepada detikcom, Jumat (21/9/2012).
Menurut Ibnu, semestinya bukan umur yang dijadikan tolok ukur capres yang akan maju di Pilpres 2014 namun lebih kepada kompetensi kandidat capres.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ibnu juga menuturkan bahwa Rapimnasus Golkar yang akan digelar Oktober mendatang tidak akan mengevaluasi pencapresan Ical. Apalagi kalau yang dipermasalahkan hanya faktor usia.
"Rapim itu membahas kinerja partai, nggak ada kaitannya dengan evaluasi pencapresan. Sekarang kan lagi disiapkan Pak Ical mengenai program untuk Indonesia yang akan dipaparkan dalam Rapimnas nanti,"lanjut Ibnu.
Partai Demokrat menilai kemenangan Joko Widodo (Jokowi) dalam quick count putaran dua Pilgub DKI bukti menguatnya tokoh muda. Hal ini menjadi lampu kuning bagi capres tua alias 'iwak peyek' yang memang berbaris menuju Pilpres 2014.
"Selamat Jokowi-Ahok. Selamat Jakarta baru! Kami akan awasi Anda secara sportif dan logis. Menangnya Jokowi punya efek buruk bagi para capres 'iwak peyek'. Suka atau tidak. Fair sajalah," kata Wasekjen PD Ramadhan Pohan dalam siaran pers, Jumat (21/9/2012).
Sosok cagub DKI Fauzi Bowo (Foke) yang dikalahkan Jokowi dianggap mewakili politisi berumur. Karenanya capres yang berusia kepala 60 tahun, menurut Ramadhan, bisa siap-siap keok di 2014.
"Ini bisa berefek ke Pilpres. Pilgub DKI jadi alarm, lampu kuning buat kandidat 'iwak peyek'. Yaitu mereka yang sudah pernah maju dan keok, juga yang di atas 60 tahun. Para pemilih maunya yang kepala 5 tuh," lanjut Ramadhan menganalisis.
(van/nrl)











































