Pasangan cagub-cawagub DKI, Foke-Nara, yang didukung banyak parpol ternyata kalah dalam quick count putaran kedua pilgub DKI. Parpol harus introspeksi diri jika ingin keputusannya diikuti publik.
"Parpol harus introspeksi. Apa keputusan partai ternyata tidak menjadi keputusan masing-masing warga/anggota partai. Ini fenomena yang menarik untuk dicermati dan diwaspadai," kata Ketua DPP Golkar, Hajriyanto Y Tohari, kepada detikcom, Kamis (20/9/2012).
Partai Golkar memang mengalihkan dukungannya ke Foke-Nara setelah kandidat cagub yang didorongnya, Alex Noerdin-Nono Sampono, kalah di putaran pertama pilgub DKI. Kala itu Alex-Nono yang didukung Golkar dan PPP hanya mendapatkan 4,67 persen suara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada motto dalam politik itu bahwa keputusan yang tidak bagus tapi diikuti oleh massa anggota jauh lebih baik daripada keputusan yang bagus tapi hanya ditaati oleh sebagian massa anggota," sambungnya.
Bagaimanapun kemenangan Jokowi harus menjadi perhatian semua parpol. Parpol perlu introspeksi diri agar tidak ada kesenjangan keputusan parpol dengan kehendak masyakarat.
"Semua harus introspeksi bahwa mungkin ada yang salah dalam proses pengambilan keputusan di dalam masing-masing parpol sehingga terjadi kesenjangan antara keputusan elite dan dukungan massa anggotanya. Semuanya ada hikmahnya yang bisa kita ambil," tegas Hajri.
Pandangan senada disampaikan Jubir Partai Golkar Nurul Arifin. Menurutnya pilgub DKI adalah pembelajaran yang dahsyat. Sebab sempat merebak isu SARA, obral janji lewat perfomance sederhana tapi lugas dan cerdas. Jika dicekoki dengan pencitraan, maka rakyat lama-lama akan lelah.
"Sekarang tinggal kita tunggu bukti aplikasi program yang diusung Jokowi. Mudah-mudahan memberi warna baru pada Jakarta, agar wajah Jakarta lebih ramah dan tidak hanya dinikmati kelas menengah atas," ujar Nurul.
(van/)











































