Menurut Alex, rakyat selalu dianggap sebagai korban, padahal tak jarang juga aparat keamanan juga ada yang menjadi korban.
"Contohnya, kejadian terakhir konflik lahan di Cinta Manis. Komnas HAM hanya fokus pada korban anak kecil yang tertembak, padahal fakta soal pembakaran 3.200 hektare kebun tebu siap panen, gudang pupuk dan alat berat PTPN VII, serta aksi pembacokan tiga Brimob dan satu polisi tidak pernah diangkat. Kan polisi juga manusia, kok Komnas HAM tidak melihatnya," kata Alex saat menjadi pembicara dalam seminar "Konflik Agraria di Indonesia dan Posisi Polri dalam Penanganannya" di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Jalan Tirtayasa Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (18/9/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bukannya saya membela polisi, tapi keadilan juga harus ditegakkan. Masyarakat yang salah juga harus di tindak," kata Alex.
Alex pun berharap agar masyarakat di Sumatera Selatan yang sedang bersengketa lahan tidak mudah terpancing emosi. "Jangan sampai masyarakat mudah diajak duduki pelabuhan, jalan tol, perkebunan atau fasilitas umum lainnya," katanya.
Untuk polisi, Alex pun meminta agar petugas yang berada di wilayah bisa lebih maksimal menjaga wilayahnya agar tidak terjadi konflik. "Agar Polsek lebih peka dan bisa meredam emosi warga. Fungsi polisi sebagai pengayom harus ditunjukkan," ucapnya.
(jor/)










































