Pantauan detikcom di rudenim tersebut, Selasa (18/9/2012), terdapat sekitar seratus imigran yang berusaha mencapai Australia namun tertangkap di Indonesia. Mereka berasal dari Irak, Iran, Afghanistan, Sri Lanka, Pakistan, Myanmar, Palestina, dan Suriah.
Tidak seperti penilaian umum tentang rudenim, di rudenim Pekanbaru para imigran gelap ini masih bisa beraktivitas seperti biasa, tidak seperti penjara. Para imigran tersebut masih bisa bermain futsal di sore hari, berinternetan dengan laptop, jalan-jalan ke kota pada hari tertentu, dan menjalankan ibadah shalat Jumat di mesjid kota.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fritz menambahkan kegiatan yang dilakukan di rudenim Pekanbaru merupakan upaya peningkatan kualitas para imigran gelap yang hendak mencari suaka. Sehingga, kekeluargaanlah yang dibangun antara pengurus rudenim dengan penghuni rudenim.
"Hubungannya juga kita bangun kekeluargaan. Begitu juga masyarakat Pekanbaru, yang sebelumnya para imigran ini disebut meresahkan, tapi ternyata sekarang masyarakat Pekanbaru bersimpati terhadap mereka. Bahkan mereka makan bersama di luar," kata Fritz.
Rudensi Pekanbaru diketahui pernah diteliti oleh University of Canberra terkait kehidupan para imigran di rudenim tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh kandidat PhD bernama Merrill Findlay tersebut menyatakan pengungsi rudenim di Pekanbaru merasa dihargai dan dikasihi.
"Para pengungsi dan pencari suaka mengatakan kepada saya bahwa pada saat mereka dipindahkan ke Pekanbaru, mereka merasa sangat bebas karena dihargai dan dikasihi oleh para pegawai dan mereka diperbolehkan berhubungan dengan keluarga dan dunia maya," ujar Findlay dalam laporan penelitiannya untuk Menkumham Amir Syamsudin pada tanggal 17 Mei 2012 lalu.
(vid/rmd)










































