"Ya jadi ketika diperiksa dia mengaku dirampok 4 orang," kata Kanit Reskrim Polsek Jatiasih, Bekasi, Iptu Sentot, saat berbincang, Selasa (18/9/2012).
Peristiwa bunuh diri ala perampokan itu terjadi pada Selasa (4/9). Oentaryo merasa sakit yang dideritanya, yakni perasaan gelisah tak pernah hilang. Dia merasa diteluh seseorang. Akhirnya dia membayar Dedi, yang pernah menjadi tukang bangunan di rumahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Selasa (4/9) malam seorang saksi menemukan korban tergeletak di pinggir jalan di perumahan Bumi Dirgantara Permai malam. Kondisi Oentaryo mengalami luka di leher, tangan terikat, serta mata dilakban. Saksi lalu membawa korban ke rumah sakit.
"Dan ternyata setelah kita telusuri, kita mendapatkan nama tersangka Dedi. Awalnya, dia tidak mengaku, namun setelah diperiksa dia mengaku bahwa dia dibayar Rp 1 juta dan sebuah handphone untuk melakukan tindakan bunuh diri ala pembunuhan itu," jelas Sentot.
Dedi ditangkap pada Senin (17/9) di rumahnya. Dahulu dia dan ayahnya Kardi pernah bekerja di rumah Oentaryo sebagai kuli bangunan. Oentaryo, ayah 2 anak ini, yang mencari dan menemui Dedi untuk melakukan aksi 'pembunuhan' itu.
"Sebelum menggorok leher korban, Dedi diajak korban makan sate dan juga membeli pisau di pasar. Setelah malam, keduanya mencari lokasi eksekusi. Korban juga sempat memanjatkan doa sebelum dibunuh dan meminta KTP diselipkan di bajunya agar keluarga mengenali. Tapi ternyata pisau daging yang digunakan Dedi untuk mengiris leher korban tidak mengani urat nadi di leher, dan korban masih hidup," terangnya.
(ndr/)











































