Aktivitas Nuklir Korsel Terungkap, AS Minta Diselidiki
Jumat, 03 Sep 2004 11:50 WIB
Jakarta - Pemerintah Amerika Serikat menyerukan penyelidikan penuh atas aktivitas nuklir sekutunya, Korea Selatan (Korsel) menyusul terungkapnya fakta bahwa negeri itu pernah melakukan program pengayaan uranium secara diam-diam.Ditegaskan Washington, aktivitas nuklir gelap tersebut seharusnya tidak terjadi. Demikian disampaikan Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Richard Boucher seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (3/9/2004).Pemerintah Korsel mengatakan kepada pengawas nuklir PBB atau Badan Energi Atom Internasional (IAEA) bahwa beberapa ilmuwannya telah melakukan eksperimen pengayaan uranium empat tahun lalu. Dan itu dilakukan tanpa sepengetahuan dan persetujuan pemerintah Seoul.Hal ini diumumkan IAEA Kamis (2/9/2004) kemarin. "Kami harap badan (IAEA) akan menyelidiki penuh masalah ini dan terus memberikan informasi kepada Dewan Gubernur," tukas Boucher. Dewan Gubernur IAEA yang berbasis di Wina, Austria akan bertemu apada 13 September mendatang."Semua aktivitas seperti itu penting untuk diselidiki. Begitu investigasi selesai, kami dan yang lainnya di dewan akan bisa menarik kesimpulan yang tepat," tutur Boucher. "Jadi itu perlu dilakukan," imbuhnya.Dikatakan Boucher, pemerintah AS kini berhubungan dengan IAEA dan pemerintah Seoul untuk membahas masalah ini. Kalangan analis menilai isu ini telah mempermalukan AS karena terungkap pada saat pihaknya bekerja sama dengan Seoul untuk menekan Korea Utara (Korut) menghentikan program senjata nuklir.Fakta ini dikhawatirkan akan menjadi halangan dalam dialog multilateral mengenai isu nuklir Korut. Korsel secara resmi telah menghentikan upayanya mengembangkan senjata nuklir pada tahun 1970-an. Itu dilakukan menyusul adanya tuntutan dari Washington.Boucher menekankan bahwa Korsel telah dengan sukarela melaporkan aktivitas nuklir di masa lampau tersebut. Korsel juga "bekerja sama penuh dan proaktif guna menunjukkan bahwa aktivitas itu telah dihapuskan dan tidak lagi perlu dikhawatirkan," ujar Boucher.Ketika ditanya mengapa AS tidak begitu kritis terhadap Korsel, Boucher menjawab bahwa aktivitas Korsel tersebut "jauh, jauh lebih kecil dari apa yang tengah dibahas mengenai situasi Korut atau Iran."
(ita/)











































