"Sebesar 66,86 persen masyarakat pesimis. Mereka tidak percaya kalau terorisme bisa diberantas sampai hilang," terang peneliti LSI, Hanggoro Doso Pamungkas saat jumpa pers di kantor LSI, Jalan Pemuda No 71, Rawamangun, Jakarta Timur, Minggu (16/9/12).
Hanggoro menjelaskan masyarakat yang percaya kasus terorisme bisa diberantas sampai hilang hanya sebesar 29,36 persen. "Yang masih percaya terorisme masih bisa diberantas habis itu ada 29,36 persen. Sisanya 3,78 persen tidak tahu," lanjutnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait pemberantasan kasus teror ini, Kementerian Agama RI juga dinilai punya peranan penting karena sebagian besar pelaku terorisme di Indonesia berhubungan dengan pemahaman agama yang keliru. Namun hanya 40 persen masyarakat yang menilai bahwa Kemenag punya andil, sedangkan 45,7 persen mengatakan bahwa Kemenag tidak berperan aktif dalam membantu pemberantasan terorisme.
"Kementerian Agama kurang optimal mengatasi terorisme dan konflik keyakinan agama. Hanya 40 persen yang menyatakan berperan. 45,7 Persen bilang tidak berperan, dan 14,24 persen tidak tahu," ujar Hanggoro.
Survei LSI ini secara umum digelar pada Januari dan September 2012. Responden berjumlah 1.200 orang dengan metode multistage random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara tatap muka responden menggunakan kuesioner dan sistem teknologi handset. Margin of error penelitian ini adalah kurang lebih 2,9 persen.
(/mad)











































