Namun, seiring dengan berjalannya waktu, fatwa-fatwa dari NU seringkali malah terkesan tidak dekat dengan rakyat, dan yang pada akhirnya berujung tidak efektifnya fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh NU.
"Fatwa-fatwa sekarang kurang membumi, semakin berjarak antara ulama dalam hal ini sebagai pemberi fatwa dan ummat sebagai penerima fatwa," ujar Ketua International Institute of Quranic Studies, Dr. Holland Taylor, di Pondok Pesantren Kempek, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, Minggu (16/9/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Disebut semakin berjarak karena perkembangan modern. Ada proses urbanisasi. Ada faktor modernitas dan juga politik," terangnya.
Holland menyebut, agar fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh NU kembali didengar oleh para warganya, NU harus bersatu. NU jangan sampai terbelah-belah karena ini akan melemahkan posisi NU sebagai salah satu ormas yang terbesar di Indonesia.
"Agar fatwa didengar, NU harus kompak dan harmonis, jangan mau terbelah oleh parpol. Kekompakan NU dulu bahkan dapat meruntuhkan penguasa pada saat itu," imbuhnya.
(riz/mad)
