"84,95 Persen publik menganggap kasus teroris bom Depok dan Tambora adalah kelalaian polisi. Polisi dinilai kecolongan tidak bisa mendeteksi rencana teror bom tersebut," ujar peneliti LSI, Hanggoro Doso Pamungkas, dalam jumpa pers bertajuk Publik Makin Merasa Tidak Aman, yang bertempat di kantor LSI, Jalan Pemuda No 70, Rawamangun, Jakarta Timur, Minggu (16/9/12)
Hanggoro menambahkan hanya 8,46 persen responden survei yang menganggap polisi tidak kecolongan dan bisa mendeteksi rencana teror bom. Sisanya 6,58 persen responden mengaku tidak tahu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam hasil survei LSI ini secara umum juga menunjukan bahwa rasa aman masyarakat Indonesia anjlok sebesar 27,9 persen dalam kurun waktu 9 bulan. Pada survei pertama Bulan Januari 2012, sebanyak 84,1 persen responden mengaku aman berada di lingkungannya. Sedangkan pada survei Bulan September 2012, hanya tinggal 56,2 persen responden yang mengaku aman.
Menurut Hanggoro, faktor terbesar yang memicu turunnya rasa aman masyarakat adalah adanya kasus terorisme dan kasus konflik keyakinan agama yang terjadi belakangan ini.
"Faktor terbesar penurunan rasa aman ini adalah kasus teror bom sebesar 50,87 persen dan kasus konflik keyakinan sebesar 18,82 persen, seperti di Sampang yang lalu itu. Sisanya 10,45 persen karena premanisme, 9,76 persen kriminalisme, dan 6,27 persen kenakalan remaja," terang Hanggoro.
Survei digelar sejak Januari hingga September 2012. Responden berjumlah 1.200 orang dengan metode multistage random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara tatap muka responden menggunakan kuesioner dan sistem teknologi handset. Margin of error penelitian ini adalah plus minus 2,9 persen.
(/mad)










































