Peran NU Dalam Proses Demokrasi di Indonesia Harus Kembali Diperkuat

Peran NU Dalam Proses Demokrasi di Indonesia Harus Kembali Diperkuat

M Rizki Maulana - detikNews
Minggu, 16 Sep 2012 01:58 WIB
Peran NU Dalam Proses Demokrasi di Indonesia Harus Kembali Diperkuat
Cirebon, -

Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satu ormas keagamaan yang mempunyai peran besar dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. NU juga dianggap mempunyai peran besar dalam perkembangan kehidupan demokrasi di Indonesia.

Namun, setelah lebih dari 67 tahun Indonesia merdeka, peran NU dalam proses demokrasi semakin pudar. Terutama setelah 15 tahun berjalannya era reformasi, peran penting tersebut semakin tergantikan oleh organisasi lain.

"Peran NU di bangsa ini telah membawa perubahan bagi bangsa Indonesia. Namun lima belas tahun belakangan ini peran demokrasi yang telah digagas dan dikawal oleh NU semakin menjadi tak terlihat," ujar Ketum PKB, Muhaimin Iskandar (Cak Imin) di Pondok Pesantren Kempek, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (15/9/2012) malam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Cak Imin, peran ini semakin tergerus karena munculnya banyak organisasi-organisasi lain. Organisasi-organisasi ini menurut Cak Imin memposisikan diri seolah-olah sebagai yang terdepan dalam memperjuangkan kehidupan demokrasi di Indonesia.

"Banyak NGO yang merasa lebih memiliki peran yang seakan-akan sebagai pejuang demokrasi. Artinya lima belas tahun proses demokrasi telah banyak diwarnai oleh banyak warna yang pada akhirnya mengkristal pada saat ini," ucapnya.

Cak Imin menambahkan, agar peran NU tidak semakin pudar, perlu adanya perbaikan sumber daya manusia dalam tubuh NU. Pendidikan formal maupun informal menurutnya penting bagi warga NU untuk kembali menguatkan posisi NU dalam proses demokrasi di Indonesia.

"Berbicara realitas pembangunan SDM dewasa ini sudah mengalami kemajuan yang baik. Anak-anak kalangan NU dan pesantren harus mengikuti pelatihan agar dapat mendapatkan peluang yang baik dalam proses pembanguan ekonomi dan dapat bersaing dalam dunia kerja dan kewirausahaan," imbuhnya.

Cak Imin yang juga Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi ini sedikit menyinggung soal TKI di luar negeri. Cak Imin menyebut masih banyak daerah-daerah basis Nahdlatul Ulama (NU) yang menjadi daerah pengirim TKI ilegal ke luar negeri. Dia menegaskan tidak akan segan untuk melakukan penertiban terhadap daerah yang melakukan pelanggaran tersebut.

"Kita tidak menutup mata dengan masih banyaknya kantong-kantong NU yang masih mengirimkan TKI ilegal dengan berangkat melalui tiket umroh. Akan tetapi Kemenakertrans tetap akan menindak tegas atas pelanggaran-pelanggaran yang demikian," paparnya.

Cak Imin menambahkan pihaknya saat ini terus melakukan upaya pelatihan-pelatihan agar dapat menciptakan tenaga kerja yang layak untuk dikirim sebagai tenaga kerja formal. Pelatihan-pelatihan juga akan diberikan kepada santri NU, sehingga para santri mempunyai bekal lebih dalam menghadapi persaingan di dunia kerja dan tidak hanya terjebak menjadi TKI informal di luar negeri.

"Anak-anak kalangan NU dan pesantren harus mengikuti pilihan agar dapat mendapatkan peluang yang baik dalam proses pembanguan ekonomi dan dapat bersaing dalam dunia kerja dan kewirausahaan," ucapnya.

Dalam kesempatan ini dia juga sempat berpesan kepada para santri dan hadirin yang datang, mengenai pentingnya menuntut ilmu setinggi-tingginya.

"Mencari kebenaran lebih bernilai dibandingkan menguasainya," tutup Cak Imin.

(riz/ega)


Berita Terkait