"Angka ini merupakan hasil survei sejumlah lembaga dunia yang perhatian terhadap pemalsuan obat. WHO pun memperkirakan pemalsuan obat sebesar 10-30 persen," kata Ketua Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP)Widyaretna Buenastuti di sela-sela Kongres Federasi Asosiasi Farmasi Asia (FAPA) di Nusa Dua, Sabtu (15/9/2012).
Berdasarkan penelitian di lapangan yang dilakukan pada April hingga Agustus 2012 di empat kota besar, yakni Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan banyak terdapat obat palsu. Obat palsu ditemukan di ritel di kota besar, apotek, dan toko obat mencapai 10 sampai 30 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk menghindari kerugian dan dampak buruk terhadap kesehatan, MIAP meminta para apoteker bersama-sama memerangi obat palsu yang banyak beredar di masyarakat. "Apoteker yang berinteraksi dengan memudahkan kampanye pemberantasan anti obat palsu," ujarnya.
Profesi apoteker harus bersertifikasi dan mempunyai tanggung jawab terhadap pengadaan, distribusi atau jual beli serta menjaga obat yang dijualnya benar-benar asli.
(gds/lh)










































