Rongsokan Sekutu Pembawa Rezeki

Sail Morotai 2012

Rongsokan Sekutu Pembawa Rezeki

- detikNews
Sabtu, 15 Sep 2012 05:52 WIB
Rongsokan Sekutu Pembawa Rezeki
Morotai, - Sail  Morotai 2012 membuat bengkel besi putih milik Darwin Wadaka [41] kedatangan rombongan tamu. Lokasi workshop yang terletak di gang sempit sehingga tamu harus berjalan kaki dari jalan utama, tak menjadi halangan.

Darwin adalah pengrajin besi putih yang disulap menjadi aneka senjata dan perhiasan. Kerajinan itu berbahan baku rongsokan armada Sekutu  pada PD II silam. Seperti diketahui, Morotai pada saat itu menjadi basis Jepang yang kemudian diambil-alih sekutu, untuk mengusir Jepang yang mencoba mencaplok Filipina. Armada kedua bangsa bertempur di lautan Morotai, pulau terdekat dari Filipina sehingga banyak kapal yang karam dan pesawat terbang  berjatuhan.

Nah, rongsokan itulah yang dimanfaatkan Darwin dan perajin lainnya untuk diolah lalu didesain menjadi aneka perhiasan dan senjata. Besi armada sekutu terbuat dari besi kelas wahid, yang tidak luntur dan tidak memudar.

Workshop Darwin di Kotalamo, Morotai, Prov Maluku Utara, tidak berpapan nama, tapi dia menamainya Marimoi. "Artinya kita bersatu," ujarnya saat dijumpai Jumat 14 September 2012. Sembari menjawab, dia meneruskan pekerjaannya menatah sarung pedang dengan besi putih. Sedangkan pedang warna besi putih sepanjang 70 cm telah jadi.

"Ini pesanana Danrem," ujarnya. Pedang bersama sarungnya dia banderol Rp 2,5 juta. Pedangnya saja  butuh 2 hari untuk membuatnya.

Darwin yang menjadi perajin  sejak tahun 80-an itu membeli bahan baku rongsokan armada sekutu dari para petani yang rutin mendatangi workshopnya. "Petani cari barang di kebunnya, dari pampasan perang," ceritanya. Sistem belinya dengan cara borongan. "Yang penting mereka tidak rugi, kami tidak rugi," kata Darwin yang memiliki 20 karyawan ini.

Di samping Darwin bertebaran pecahan rongsokan yang sulit memperkirakan wujud aslinya. Besi itu ada yang berbentuk seperti helm, ada yang mirip bagian pesawat terbang, dan sebagainya.

Darwin lalu mempersilakan untuk melihat perhiasan besi putih yang sudah jadi, yang terletak di sebelah bengkelnya. Perhiasan kalung, anting, cincin, serta kalung nama itu bukan ditempatkan di etalase khusus, melainkan hanya digantung di lapak sederhana. Padahal harga perhiasan itu relatif tidak murah, yaitu Rp 25 ribu hingga Rp 300 ribu. Desainnya cantik-cantik dan tampak mengkilap indah.

Berkat Sail Morotai, pengunjung ke bengkel Darwin meningkat. Selain turis lokal, ada juga orang asing peserta sail. Misalnya saja  veteran PD II dari AS dan Australia. Peninggalan sekutu tentu menarik mereka, setidaknya untuk bernostalgia di masa lalu.

Rongsokan armada sekutu memang cukup banyak di Morotai. Bahkan Syukur Kuseke, penjaga eks tempat mandi Jenderal Douglas McArthur - jenderal bintang lima yang memukul Jepang di Morotai - saat ditemui terpisah, menyebut 10 ribu ton rongsokan mobil sekutu pernah dibawa ke industri baja di  Jawa. Syukur adalah warga setempat kolektor barang-barang sekutu.

Nilai historis  PD II yang melimpah inilah yang kini  menjadi modal bagi pemerintah menyulap Morotai, pulau seluas Singapura, sebagai destinasi wisata sejarah berkelas dunia.

(nrl/fjp)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads