Morotai Bagaikan Disulap

Morotai Bagaikan Disulap

- detikNews
Jumat, 14 Sep 2012 13:04 WIB
Morotai Bagaikan Disulap
Jalan mengarah ke puncak Sail Morotai
Morotai - Christine Hakim tahu benar bagaimana Kabupaten Pulau Morotai berubah cepat. Maklum, dalam setahun ini dia pulang pergi Jakarta-Morotai untuk membuat film dokumenter tentang keindahan Morotai dan Maluku Utara.

"Jalan ini dulu belum ada," ujarnya saat ditemui di sebuah bangunan baru di kawasan pelabuhan feri Desa Juanga, Morotai, Jumat (14/9/2012). Dia menunjuk jalan lebar beraspal yang mengarah ke pelabuhan, tempat di mana Presiden SBY akan menghadiri puncak pesta bahari Sail Morotai 2012 pada Sabtu besok.

"Perubahan dalam setahun ini luar biasa, khususnya infrastrukturnya," imbuh artis kawakan yang tampil sporty dengan sepatu boots warna biru bermotif ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kekaguman Christine beralasan. Begitu memasuki Morotai dari pelabuhan Daruba di Desa Yayasan -- 4 km dari pelabuhan feri Juanga -- jalan-jalan lebar terlihat mulus beraspal. Pot-pot bunga berjajar di tengah jalan sebagai pemisah jalur.

Bangunan-bangunan baru juga bermunculan, utamanya di pusat pembukaan Sail Morotai. Ada Rumah Pintar, ada pula Museum PD II. Toko-toko berjajar ramai pengunjung. Morotai terasa berdenyut.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C Soetardjo juga bangga atas perkembangan yang cepat dari Morotai, pulau seluas Singapura. Pembangunan dalam setahun buah dari event Sail Morotai, terlihat di mana-mana.

"Morotai seperti disulap. Tahun yang lalu tak seperti ini ," katanya usai menghadiri gladi resik puncak Sail Morotai di lapangan pelabuhan feri, Jumat siang.

Sharif mencontohkan jalan beraspal hotmix yang telah dibangun sepanjang 35 km oleh Kementerian PU, dari rencana sepanjang 1.000 km mengelilingi garis pantai.

Infrastruktur berupa jalan adalah urat nadi pertumbuhan ekonomi kawasan. Jalan-jalan itu dibangun dan diperlebar begitu gaung Sail Morotai terdengar setahun lalu. Event internasional Sail Indonesia yang digelar tiap tahun memang bertujuan untuk mendongkrak ekonomi suatu daerah. Sail pertama diadakan di Bunaken, menyusul Sail Banda lalu Sail Wakatobi- Belitong, dan sekarang Morotai.

Ketika sail diadakan, maka konsentrasi sedikitnya 15 instansi pemerintah pusat akan tercurah di kawasan tuan rumah sail. Ada yang kebagian membangun jalan, penerangan, fasilitas kesehatan, promosi besar-besaran, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat, hingga diplomasi ke luar negeri.

Dana dari APBN mengucur. Karena itulah banyak pemimpin daerah berebutan ditunjuk oleh pusat sebagai lokasi sail. Mereka bisa membayangkan kemajuan yang didapat daerahnya bisa sail digelar di wilayah mereka.

Menurut Sharif, Morotai memiliki potensi kelautan yang luar biasa yang bisa dijual baik dari segi produksi hasil laut hingga pariwisatanya.

"Kita akan membangun industry estate di sini," kata Sharif.

Manfaat Sail Morotai juga dirasakan Amir, warga setempat. "Jalan dulu tidak ada sekarang ada, yang dulu kecil sekarang lebar," katanya di pelabuhan Daruba.

Morotai adalah pulau terbesar kedua di Provinsi Maluku Utara setelah Halmahera, berbatasan dengan Filipina. detikcom yang berada di lokasi Sail Morotai bersama Pusdatin Kementerian Kelautan dan Perikanan menempuh perjalanan sekitar 11 jam dengan kapal Pelni KM Tilongkabila dari Ternate, eks ibukota Maluku Utara. Morotai juga bisa ditempuh lewat udara karena telah memiliki bandara internasional.

Morotai selama ini identik sebagai peninggalan sejarah PD II. Jenderal McArthur dari AS selalu dikaitkan dengan pulau eks basis Jepang dan Sekutu ini. Tapi popularitas McArthur, kata Christine Hakim, tak mendapat porsi berlebih dalam film dokumenternya yang sedang digarapnya.

"Sejarah Morotai itu panjang. Sejak pra kemerdekaan, kolonial, hingga 4 kesultanan," katanya penuh semangat, sesemangat Morotai yang ngebut membangun.

(nrl/mok)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads