Ahli hipnoterapis yang juga pengamat terorisme, Mardigu WP, menilai orang tua harus memberi batas-batas tersendiri pada anak ketika bergaul. Bila sudah mencium ada pengaruh gerakan radikal, harus segera dijauhkan.
"Gerakan ini selalu berangkat dengan kalimat dari kitab suci, selalu sama," ujar Mardigu saat berbincang lewat telepon, Kamis (14/9/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah itu fa'i, ada kalau dosa itu bisa dicuci dengan fa'i," imbuhnya.
"Kalau ada orang seperti itu, jauhi segera. Garansi orangnya itu-itu juga. Jaga jarak dengan mereka. Itu fakta dari interview ratusan orang," terang Mardigu.
Selain itu, Mardigu juga memberi masukan pada pemerintah agar membuat aturan ketat soal kebebasan berbicara. Semua orang bisa berpendapat, namun tidak boleh menyebarkan kebencian.
"Itu berlaku di 165 negara. Tidak boleh pidato atau ceramah kebencian, termasuk provoke orang," tegasnya.
Yusuf Rizaldi, tersangka teroris yang menjadi buron polisi sebelumnya menyerahkan diri. Menurut polisi, dia tobat karena dorongan orang tua. Sebuah fenomena baru di kasus terorisme Indonesia.
(mad/)











































