Laporan dari Forum on Indonesia, Oslo
Norwegia Nilai Indonesia Mitra Potensial
Kamis, 02 Sep 2004 12:17 WIB
Oslo - Kerajaan Norwegia menilai Indonesia sebagai mitra potensial untuk kerjasama saling menguntungkan. Kedua pihak perlu membuat dirinya menarik agar kerjasama itu sukses.Demikian dikatakan Menteri Perikanan Norwegia, Svein Ludvigsen, pada konferensi pers seusai seminar ekonomi Indonesia bertajuk New Potentials and Prospects di gedung pusat konferensi Glaxo Smith Kline, Oslo, (30/8/2004). Seminar tersebut merupakan bagian dari program Forum on Indonesia, yakni medium kampanye KBRI Oslo untuk menarik Norwegia dan dunia swastanya agar menjadi mitra penting dan menanamkan investasinya di Indonesia.Ikut mendampingi Ludvigsen antara lain Menko Perekonomian Dorodjatun Kuncoro Jakti, Menteri Perikanan dan Kelautan Rokhmin Dahuri, Dubes Norwegia untuk Indonesia Bjorn Blokhus dan Dubes RI untuk Norwegia Hatanto Reksodiputro.Ludvigsen di hadapan wartawan Norwegia dan Indonesia mengatakan, perkembangan yang terjadi di Indonesia saat ini sangat mengagumkan, terutama perkembangan ekonomi dan perubahan sistem politiknya. "Kami berharap seminar ini menjadi awal yang sangat penting bagi kerjasama kedua negara dan swasta ke swasta, terutama sektor perikanan," demikian Ludvigsen. Pernyataan Ludvigsen ini menggarisbawahi paparan Menko Perekonomian Dorodjatun Kuncoro Jakti sebelumnya, yang menyajikan potensi kekayaan alam Indonesia, mulai dari cadangan gas, minyak, mineral, kelautan, dsb.Tokoh Partai Konservatif, yang berasal dari keluarga nelayan, itu menambahkan bahwa memang saat ini masih terlalu dini untuk menilai upaya-upaya yang dilakukan kedua negara karena masih pada tahapan awal, namun dari kesemua upaya itu menunjukkan bahwa kedua negara tertarik untuk bekerjasama erat secara saling menguntungkan. "Kedua pihak perlu saling membuat dirinya menarik agar kerjasama itu sukses," kata Ludvigsen.Mengenai sektor ketenagakerjaan, Ludvigsen belum bersedia menjanjikan lebih jauh. Namun tahapan awal telah dirintis yakni dengan kesediaan Norwegia melakukan grading (penyetaraan diploma) sekolah kelautan Indonesia, sehingga lulusannya dengan berbekal diploma yang telah disetarakan itu dapat bekerja di kapal-kapal Norwegia.Untuk penyerapan tenaga kerja secara langsung, Ludvigsen mengatakan bahwa meskipun jumlah penduduk Norwegia sangat sedikit (hanya 4,5 juta jiwa) namun saat ini negerinya kurang begitu membutuhkan tenaga kerja biasa. "Negeri kami saat ini lebih membutuhkan tenaga kerja berbasis 'otak' daripada 'sarung tangan'," ujar Ludvigsen seraya memberi isyarat ke pelipis dan kedua tangannya.Sebelumnya dalam pidato pembukaan seminar, Ludvigsen memaparkan kesamaan Norwegia dan Indonesia sebagai negara yang sama-sama berbatasan dengan laut. Dengan garis pantai Indonesia 4 kali lebih panjang dari Norwegia dan luas wilayah laut mencapai 3,1 juta km2, Indonesia kaya sumber daya dan potensial menjadi mitra Norwegia di bidang perikanan dan kelautan.Ludvigsen percaya bahwa langkah-langkah yang dilakukan kedua pihak saat ini akan mempermudah kerjasama, perdagangan, dan investasi, yang akan mengantarkan pada pemanfaatan berbagai peluang, terutama di sektor kelautan.KayaNorwegia adalah salah satu negara termakmur dan terkaya di dunia, dengan pendapatan per kapita mencapai 47.000 USD, dua kali lipat pendapatan per kapita Belanda yakni 22.000 USD.Negeri Skandinavia itu saat ini merupakan salah satu pengekspor ikan terbesar di dunia. Setiap tahun Norwegia mampu mengekspor produk perikanannya ke lebih dari 150 negara di dunia, dengan nilai total 30 miliar NOK (Kroon Norwegia). Untuk ekspor ikan salmon saja, nilainya sama dengan total ekspor ikan Indonesia setahun.Volume ekspor yang fantastis itu dipasok dari industri perikanan akuakultur (melalui budidaya) dan penangkapan di laut. Lebih dari separuh volume itu merupakan hasil penangkapan di laut. Masalahnya, Uni Eropa (UE) melalui kebijakan perikanannya (fisheries policiy) kini telah menetapkan untuk membatasi eksploitasi laut di kawasan itu, karena stok ikan di perairan Uni Eropa, terutama Laut Utara, semakin menipis. Akibat kebijakan itu, Norwegia terpaksa harus melakukan scrapping (mengurangi) armada kapal penangkap ikannya. Perkembangan ini dipandang dapat mengancam ekspor mereka secara drastis. Ini merupakan sebuah peluang bagi Indonesia. Melalui misi diplomasi berlabel Forum on Indonesia, KBRI Oslo berusaha memanfaatkan peluang tersebut demi pembangunan sektor perikanan dan kelautan serta masuknya investasi Norwegia untuk sektor-sektor lainnya.
(es/)











































