ADVERTISEMENT

Susun Pembelaan, Miranda Minta Disediakan Laptop

- detikNews
Rabu, 12 Sep 2012 20:10 WIB
Jakarta - Terdakwa perkara suap cek pelawat Miranda Swaray Gultom meminta izin menggunakan laptop di rumah tahanan untuk menyusun nota pembelaan (pledoi). Miranda menyusun pledoi atas tuntutan empat tahun penjara terhadap dirinya.

Permintaan ini disampaikan penasihat hukum Miranda setelah jaksa penuntut umum membacakan tuntutan dalam sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jl HR Rasuna Said, Jaksel, Rabu (12/8/2012).

"Izin menggunakan lapotop bersih untuk membuat pledoi dari terdakwa. Kepala rutan akan berikan asalh ada izin dari majelis hakim," kata penasihat hukum Miranda, Andi Simangungsong.

Permintaan ini langsung disetujui majelis hakim yang diketuai Gusrizal. "Dalam rangka kepentingan pembelaan terdakwa, kami pada prinsipnya tidak keberatan," ujar Gusrizal.

Jaksa Penuntut Umum yang dipimpin Supardi menyatakan kesiapannya berkoordinasi dengan Karutan. "Terimakasih, laptopnya kalau bisa malam ini," sebut Miranda mendengar penjelasan hakim dan JPU.

Miranda dituntut 4 tahun penjara dan denda Rp 150 juta subsider 4 bulan kurungan. JPU menyatakan Miranda terbukti melakukan tindak pidana penyuapan sebagaimana diatur Pasal 5 ayat 1 huruf b UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Dalam tuntutannya JPU menjelaskan Miranda melalui Nunun memberi travel cek dengan total nilai Rp 20,8 miliar kepada Udju Djuhaeri, Dudhie Makmun Murod, Hamka Yandhu dan Endin Soefihara. "Masing-masing membagi-bagikan ke sesama anggota fraksi lainnya," kata JPU, Irene Putri.

Pemberian travel cek ini kata JPU berhubungan dengan terpilihnya terdakwa dalam fit and proper test DGS BI pada 8 Juni 2004. Atas tuntutan ini, Miranda mengaku keberatan dengan sejumlah alasan yuridis yang dikemukakan jaksa.

"Masalah menuntut itu tugas jaksa menuntut, saya tidak bisa bilang apa-apa. Saya terima saja tapi alasan-alasan yang dipakai untuk menuntut itu beberapa di antaranya menurut saya khilaf, kalau agak kerasnya bohong," kata Miranda usai persidangan.

Dia mempertanyakan alasan yuridis yang disampaikan penuntut umum mengenai pertemuan dirinya dengan anggota DPR di kediaman Nunun Nurbaetie termasuk pertemuan dengan Nunun di kantornya.

"Banyak yang tidak benar. Memang saya datang ke rumah Nunun, dua kali. Dua kali sering nggak? Bu Nunun cuma sekali ke kantor saya, sering nggak? Jaksa mengatakan sering, padahal satu kali," sebut Miranda.

Miranda juga membantah adanya kalimat 'ini bukan proyek thank you' dalam pertemuan dengan anggota Komisi IX DPR di kediaman Nunun. "Yang ngomong pertemuannya ada cuma Nunun sendiri. Saya mengatakan tidak, Hamka mengatakan tidak, Endin dan Paskah mengatakan tidak ada," tegas dia.

(fdn/ndr)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT