Puluhan Penari Jaran Kepang Geruduk Kantor Gubernur Jateng

Puluhan Penari Jaran Kepang Geruduk Kantor Gubernur Jateng

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Rabu, 12 Sep 2012 14:20 WIB
Puluhan Penari Jaran Kepang Geruduk Kantor Gubernur Jateng
Foto: angling adhitya p/detikcom
Semarang -

Puluhan penari Jaran Kepang atau Jathilan menggeruduk gedung Gubernuran Jawa Tengah. Mereka memprotes Gubernur Jateng Bibit Waluyo yang disebut-sebut menyatakan Jathilan sebagai kebudayaan jelek.

Salah satu penari, Feri Asrofi mengatakan ia dan rekan-rekannya dari kelompok Jathilan Rukun Agawi Santoso Kridho Turonggo jauh-jauh datang dari Muntilan ke gedung Gubernuran Jateng di Semarang karena kecewa terhadap pernyataan Gubernur Jateng tersebut.

"Kami kecewa, sakit hati dengan pernyataan Gubernur. Seharusnya mendukung, bukannya membuat kami down," kata Feri sebelum aksi, di Jl Pahlawan, Semarang, Rabu (12/9/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal senada diungkapkan oleh ketua kelompok, Suhadi. Ia mengatakan Gubernur seharusnya bisa bertutur kata yang baik untuk memotivasi para penari Jathilan yang menjadi pelaku utama pelestari budaya.

"Setidaknya bertutur kata yang baik sebagai pemimpin. Berikan motivasi atau mendukung penarinya," imbuh Suhadi.

Ia menambahkan, pihaknya mendengar kabar Bibit Waluyo hari Minggu (9/9) lalu mengomentari kesenian Jathilan dalam acara The 14th Merapi and Borobudur Senior's Amateur Golf Tournament Competing The Hamengku Buwono X Cup di Borobudur International Golf and Country Club Kota Magelang sebagai kesenian yang jelek.

"Saya dapat beritanya dan langsung mengumpulkan rekan-rekan dan berangkat jam enam pagi tadi," ujar Suhadi.

Koordinator aksi dari komunitas anak merapi, Andang Prasetyo miris dengan komentar negatif Bibit yang justru terlontar ditengah maraknya klaim negara lain atas kebudayaan Indonesia.

"Pemimpin ini malah melontarkan komentar yang negatif terhadap Jathilan. Ini seni yang dihidupi masyarakat. Jangan dianggap remeh," tandas Andang.

"Aksi ini tidak ada motivasi lain. Karena siapa yang nguri-uri kebudayaan ini selain kita sendiri? Kalau sudah di klaim Malaysia baru bingung," imbuhnya.

Tarian Jathilan dari muntilan yang digelar di depan gedung Gubernuran tersebut diawali dengan menari sepanjang jalan Pahlawan. Jathilan ditarikan lebih dari satu jam. Pada akhir tarian, beberapa pemain berkostum tokoh wayang terjatuh satu persatu karena kesurupan.

Sebelumnya, Bibit Waluyo sempat mengklarifikasi pernyataannya. Ia mengatakan yang ia maksud adalah persiapan dan penampilan yang dibawakan dalam acara yang diselenggarakan hari Minggu lalu. Bukan keseniannya.

"Kita kan punya yang baik, kok memamerkan yang buruk. Gamelan saja diikat-ikat dengan plastik. Kalau Jathilan itu bagus. Cuma tadi malam itu, ya Allah apa tidak ada yang lain?," pungkas Bibit hari Senin (10/9) lalu.

Meski demikian, sakit hati sudah terlanjur dirasakan oleh para penari Jathilan. Andang berharap Gubernur bersedia meminta maaf atas pernyataannya.

"Minta maaflah kepada masyarakat Magelang karena ada lebih dari 3.000 grup Jathilan," tutup Andang.

(alg/trw)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini