Waspadai 5 Kedok Teroris Ini di Lingkungan Anda

Waspadai 5 Kedok Teroris Ini di Lingkungan Anda

- detikNews
Rabu, 12 Sep 2012 14:20 WIB
Waspadai 5 Kedok Teroris Ini di Lingkungan Anda
Jakarta - Ada berbagai cara dilakukan para teroris di Indonesia untuk menyembunyikan rencana aksi mereka. Ada yang berkamuflase lewat kegiatan amal, ada juga yang membuat usaha tertentu. Waspadalah!

Berikut lima kedok teroris di Indonesia sebelum beraksi, berdasarkan catatan kepolisian:

Teroris Berkedok Yayasan Yatim Piatu

Spanduk Yayasan Yatim Piatu Pondok Bidara yang terpampang di rumah kontrakan tempat bom meledak di Depok pada 8 September 2012 lalu hanyalah kedok belaka. Itu hanya akal-akalan kelompok tersebut menutupi kegiatan mereka yang sebenarnya.

"Ini terjadi kamuflase, seperti di Wonosobo ada yang berjualan baju, kelontong," ujar Karopenmas Mabes Polri Brigjen Boy Rafli di TKP, Jl Nusantara, Beji, Depok, Minggu (9/9). Pengobatan tradisional dan jualan herbal juga dianggap hanya trik untuk menyaru.

Catatan Kemensos, tidak ada data tentang yayasan tersebut. Selain itu juga tidak ditemukan adanya anak asuh yang ditemukan.

Rumah petak itu disewa oleh Yusuf Rizaldi, yang tercatat sebagai warga Petojo, Jakarta Pusat. Pria kelahiran Medan tahun 1972 itu menyewa rumah petak itu baru dua bulan lalu dan telah menunggak pembayaran satu bulan terakhir.

Posisi Rizal saat ini belum diketahui. Sedangkan istrinya yang bernama Hafsah dan dua anak kembarnya yang baru berusia 2,5 tahun, telah diamankan polisi.

Dalam peristiwa ini seorang tersangka pemilik bom terluka parah.

Teroris Berkedok Jualan Susu dan Bubur Ayam

Terduga teroris yang tinggal di Bojonggede, Jawa Barat, Anwar, mengaku pada para tetangga sebagai penjual susu kedelai dan bubur ayam. Namun khusus untuk susu kedelai, tetangga tak pernah menerima kiriman meski sudah memesannya.

Hamzah, tetangga Anwar yang terpisah tujuh rumah di Kampung Warung Jambu, Kecamatan Bojonggede, RT 03/08, Bogor, Jawa Barat, mengaku pernah memesan susu kedelai. Namun pesanan itu tak pernah dipenuhi Anwar.

"Saya kenal Anwar. Pengakuannya tukang susu kacang kedelai. Tapi tetangga pesan nggak pernah dibawain. Tertutup saja rumahnya," kata Hamzah saat ditemui detikcom, Selasa (11/9/2012).

Soal jualan bubur ayam, Hamzah juga mengaku tak pernah melihat gerobak atau lapak tempat Anwar berjualan. Terlebih lagi saat kasus terorisme ini terkuak, Hamzah menyimpulkan dua aktivitas itu hanya kamuflase saja.

"Itu hanya pengakuan dia saja," imbuhnya.

Seorang ibu yang tinggal berhadapan dengan rumah Anwar pun pernah memesan susu kedelai sebanyak 20 bungkus beberapa waktu lalu. Namun hingga hari ini pesanan itu tak pernah diantar.

"Orangnya tinggi berjenggot. Suka ada anak kecil yang bawa keresek hitam, katanya susu kedelai. Tapi kita pesan nggak pernah diantar," terang ibu yang enggan namanya disebut itu.

Anwar diduga sebagai terduga teroris yang menjadi korban ledakan di Beji, Depok. Dia kini masih terbaring di RS Polri Kramatjati. Beredar kabar, Anwar adalah desertir polisi. Namun Mabes Polri membantahnya.

Teroris Berkedok Pengiriman Buku (Bom Buku)

Teroris rupanya juga menggunakan kedok pengiriman buku dalam melancarkan aksinya. Kedok ini dilakukan dengan mengirimkan paket buku yang di dalamnya telah dipasangi bom ke alamat target. Seperti yang dilakukan terdakwa dalang aksi teror tersebut, Pepi Fernando.

Pepi mengirimkan paket bom buku tersebut kepada Ulil Abshar Abdalla meledak di kantor Jamaah Islam Liberal, Utan Kayu pada 15 Maret 2011. Dalam ledakan bom tersebut, seorang polisi terluka.

Pepi divonis hukuman 18 tahun penjara. Sebab ternyata Pepi juga melakukan enam teror serupa dengan target sasaran sejumlah rumah ibadah dan rombongan Presiden SBY.  Sementara istri Pepi, Deni Carmelita divonis 2 tahun penjara. Carmelita terbukti menyembunyikan informasi terkait tindak pidana terorisme yang dilakukan suaminya.

Teroris Berkedok Peretas Situs (hacker)

MK (27), diringkus Densus 88 Antiteror Mabes Polri di Kota Bandung 30 Agustus 2012. Penangkapan tersebut terkait jaringan teroris. MK disebut-sebut jago bidang teknologi dan informasi.

"MK itu kerja di bidang IT. Sudah dua tahun bekerja di perusahaan IT yang lokasinya di Arcamanik, Bandung," jelas Kapolsek Arcamanik Kompol I Ketut Adi Purnama saat ditemui di lokasi penggeledahan yang dilakukan Densus 88 Mabes Polri di komplek Cluster Pawenang, Kelurahan Cisaranten, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, (30/8) lalu.

MK yang merupakan bagian dari Jaringan teroris Medan tersebut ditangkap karena diduga memiliki rencana peledakan. MK membantu tersangka teroris lainnya, RG dengan meretas situs investasi online sehingga berhasil mendapat uang tidak sah Rp 7 miliar.

RG adalah tersangka teroris yang ditangkap 3 Mei 2012 lalu bersama istrinya berinsial CF di Bandung.

Teroris Berkedok Pondok Pesantren

Terdakwa kasus bom di Pondok Pesantren Umar bin Khattab, Bima, NTB, Abrori Al Ayubi alias Maskadov bin Ali divonis 17 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Tangerang, 28 Maret 2012. Abrori adalah Pimpinan Pondok Pesantren tersebut.

Sebelumnya polisi menyita sejumlah bahan peledak dan senjata tajam dari ponpes tersebut pada 13 Juli 2011. Ponpes ini menjadi perhatian aparat setelah sebuah bom rakitan meledak di lokasi tersebut dan menewaskan seorang santri bernama Firdaus pada 11 Juli 2011.

Menurut Ketua Majelis Hakim Iman Gultom, terdakwa terbukti mendalangi pembuatan sebanyak 27 paket bom dan pembunuhan polisi di Bima dan memberikan paham jihad yang keliru dengan mencuci otak santri untuk memerangi polisi, hakim dan jaksa.

Tidak hanya MUI NTB yang mengaku tidak memiliki data soal Ponpes Umar Bin Khattab, Bima. Kementerian Agama juga tidak memiliki data ponpes tersebut.
Halaman 2 dari 6
(/nwk)


Berita Terkait