Rawan Penyelundupan Narkotika, Polri-PDRM Perketat Pengawasan di Perbatasan

Rawan Penyelundupan Narkotika, Polri-PDRM Perketat Pengawasan di Perbatasan

- detikNews
Selasa, 11 Sep 2012 19:17 WIB
Rawan Penyelundupan Narkotika, Polri-PDRM Perketat Pengawasan di Perbatasan
Kabareskrim Komjen Pol Sutarman
Jakarta - Indonesia menjadi surga bagi para pengedar narkotika. Sementara Malaysia, menjadi wilayah strategis sebagai pintu gerbang untuk memasok narkotika dari negara lain ke Indonesia. Guna mengantisipasi lalu lintas peredaran narkotika di kedua negara ini, Polri dan Polisi Diraja Malaysia (PDRM) sepakat untuk saling memperketat pengawasan di perbatasan dan perairan.

Kepala Bareskrim Polri Komjen Pol Sutarman mengatakan, sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat rentan akan penyelundupan narkotika karena memiliki ribuan pintu masuk baik melalui pelabuhan legal dan ilegal dengan berbagai modus operandi.

"Itu terbuka sekali pelaku ilegal yang masuk ke Indonesia. Selama ini transaksi dari Cina, Malaysia masuk ke Kepri, kemudian di pantai barat modus operandi dari Belanda gunakan kapal besar berlabuh di laut internasional, kemudian dijemput speed boat dibawa ke Indonesia dan itu gunakan senjata api. Oleh karenanya kita harus waspada," jelas Sutarman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal itu diungkapkan Sutarman usai membuka Pertemuan Bilateral Ke-7 Ditnarkoba Bareskrim Mabes Polri dan Jabatan Siasatan Jenayah Narkotik Polisi Diraja Malaysia (JSJN PDRM) di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Selasa (11/9/2012).

Sutarman mengatakan, sejak 2010 lalu, pihak kepolisian telah mengungkap peredaran narkotika yang melibatkan jaringan dari Malaysia. Faktanya, beberapa barang haram yang berhasil diungkap polisi itu berasal dari Malaysia.

"Sehingga kita berharap Malaysia ada sistem agar barang itu tidak masuk ke Indonesia," kata Sutarman.

Direktur IV Tindak Pidana Narkotika Bareskrim Polri Brigjen Arman Depari mengatakan, pertemuan bilateral ini adalah pertemuan yang ketujuh. Pertemuan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kerjasama antara kepolisian RI dengan PDRM dalam pemberantasan narkotika.

Arman mengatakan, dalam pertemuan itu dibahas mengenai masalah strategis, taktis dan teknik operasional.

"Kita lihat apakah bisa lakukan joint investigation atau joint operation. Kita harap dengan kerjasama ini kita bisa tekan peredaran gelap narkotika ini," kata Arman.

Arman juga berharap pertemuan ini dapat mempererat kerjasama masing-masing pihak sehingga pemberantasan narkotika tidak terkendala masalah birokrasi. Terutama masalah informasi adanya keterkaitan jaringan Indonesia dan Malaysia yang ditangkap di masing-masing negara asalnya.

"Kita berharap tidak ada birokrasi yang terlalu panjang, cukup kirim email atau per telepon dengan stafnya," katanya.

Sementara itu, Direktur Investigasi Kejahatan Narkotika PDRM, CP Datuk Noor Rhasid bin Ibrahim mengungkapkan pihaknya telah memperketat pengawasan di pelabuhan darat, laut dan udara.

"Kita fokus dan ketatkan pemeriksaan di pintu keluar penerbangan Malaysia. Kita mulai buat pemeriksaan di atas pintu-pintu laut, kita dapati ada penurunan dalam tangkapan," kata Datuk Noor.

Ia mencontohkan, pihaknya dapat menggagalkan penyelundupan puluhan kilogram amphetamin melalui jalur laut di Sabah.

"Terakhir kita ingat di Sabah ada tangkapan melalui jalan laut. Disita 21 Kg Amphetamin, ini dikawal hendak ke Tarakan dan dibawa ke Indonesia," katanya.

Dalam peningkatan kerjasamanya dengan kepolisian Indonesia, kepolisian Malaysia ikut membantu mengejar DPO sindikat narkoba yang berada di Malaysia. Termasuk kelanjutan penindakan atas WN Malaysia yang telah ditangkap di Indonesia.

"Kalau WN Malaysia ditangkap di Indonesia kita selidiki siapa sindikatnya. Kemudian mereka yang di Indonesia ada harta di Malaysia, kita sita hartanya itu," katanya.

(/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini