Malam saat kejadian dirinya tengah bertandang ke kediaman familinya yang berada di seberang lokasi kejadian yang berjarak sekitar 35 meter dari rumah kontrakan yang berspanduk Yayasan Panti Asuhan Pondok Bidara. Kedatangannya ke sana sekadar mengurus kepentingan keluarga.
"Pikir saya waktu itu ada lemari di dalam rumah jatuh, cuma getarannya tidak seprti yang saya pikirkan, karena keras sekali," ujar pria asal Sulawesi Utara ini usai bertemu Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Jl Trunojoyo, Jaksel Senin (10/9/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah dia dan sejumlah keluarganya mengecek, ternyata tabrakan yang dia duga itu tidak ada. Dari situ pula dia melihat kepulan asap dari rumah kontrakan yang berada di seberang jalan.
"Saya melihat melihat ada mobil warna biru dan di belakang mobil itu terdapat dua orang lari seolah-olah mendekati mobil itu, namun sebelum sampai, mobil itu langsung tancap gas, entah ke mana," kisahnya yang baru menginjak Jakata Kamis pekan lalu.
Tanpa pikir panjang, Revindo langsung menuju sumber ledakan. Dia saat itu belum mengetahui bila ledakan itu berasal dari material pembuat bom. Dia mengira ledakan bersumber dari ledakan tabung elpiji.
"Saya melihat ada satu orang di dalam rumah yang panggil, dan naluri saya terpangil menolong karena melihat ada tulisan Yayasan panti yatim, pikirannya banyak anak-anak di dalam rumah itu," ceritanya.
Sebelum dirinya mendekat, dia mendengar seorang warga yang juga hendak menolong mengatakan ledakan bukan dari tabung gas, tapi bom karena bau yang tercium seperti bau mesiu.
Revando memaksa untuk masuk ke dalam dan menolong. Saat berada di dalam dia melihat seorang laki-laki meminta bantuan. Laki-laki itu terlihat terluka parah di bagian tangannya.
"Dia mengatakan sesuatu," kata Revindo.
Tapi, dia tidak menyebut kalimat apa yang disampaikan orang yang ditolongnya yang berjarak sekitar dua meter.
"Tanya Pak Brigjen saja," ujarnya seraya mengingat nama Dirtipidum Bareskrim Polri, Brigjen Pol Aridono.
Begitu pula saat ditanya apakah kalimat yang disampaikan itu bernada ancaman atau menyebut sasaran bom, Revando tetap enggan menyebutkannya. Lagi-lagi dia mengatakan agar pertanyaan itu dijawab oleh kepolisian saja.
Revando pun mengurungkan niatnya menolong pria yang luka cukup parah itu. Akhirnya dia keluar dari rumah kontrakan asal ledakan dan menolong dua orang yang ada di belakang titik ledakan.
"Saya melihat bapak-bapak setengah baya yang sudah duduk-duduk, dan saya angkat dia, saya balik lagi dan saya melihat perempuan menangis dan langsung saya bawa keluar di tempat pohon bambu," tuturnya.
Niat kedatangannuya ke Bareskrim sendiri adalah untuk menyampaikan kesaksiannya tersebut kepada pihak kepolisian. Pria yang hendak melamar menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi di Jakarta ini pun tetap mengelak ketika terus disinggu soal kalimat misterius yang disampaikan korban ledakan.
"Itu biar polisi saja yang sampaikan," katanya.
(ahy/mad)











































