"Bukan serba kebetulan, semuanya ditentukan yang Maha Kuasa, tidak ada kebetulan, proses alamiah," ujar Boy dalam konferensi pers, di Jakarta, Senin (10/9).
Sebelumnya, warga Jl Teratai 7, No 4 RT 02/0, Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat, berbondong-bondong mendatangi rumah Thorik setelah melihat kepulan asap dari rumah yang dihuni Thoriq, ibu, serta istri dan anaknya, Rabu pekan lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tiga hari kemudian, Sabtu (8/7), bom meledak di Jl Nusantara No 63, Beji, Depok, di sebuah rumah kontrakan yang menyaru sebagai panti asuhan Pondok Yatim Bidara. Keesokan harinya Thorik pun menyerahkan diri ke pihak kepolisian.
"Tidak ada diatur-atur menyerahkan diri. Tidak ada," tegas Boy.
Polri mengapresiasi sikap Thorik sang 'pengantin' yang menyerahkan diri kepada pihak kepolisian. Karena dengan langkah yang diambilnya, polri berharap dapat mengusut kasus teror dan rencana bom bunuh diri yang direncanakan Thoriq.
"Tidak usah menyesal tidak usah curiga terungkap, lebih baik kita bersyukur bahwa dengan niat-niat ini digagalkan," kata Boy.
"Tidak ada satu pun yang diatur, percaya tidak percaya silakan sendiri-sendiri selidiki lebih lanjut," tegas Boy.
Beberapa kali polisi menyatakan, baik Thoriq atau kelompok Depok telah menjadi bagian dari pantauan pihaknya. Terlebih, kemarin Boy mengatakan pihaknya mengendus bila bahan-bahan peledak yang ada di Jl Nusantara No 63, Beji, Depok, masuk kurang dari 24 jam meledaknya bom.
Meski sudah diintai dan mengetahui adanya kegiatan dan perencanaan teror, ledakan bom tidak terhindarkan. Boy beralasan bom meledak karena kesalahan teknis perakit.
(ahy/mad)










































