"Intelejen seperti apapun canggihnya, sekalipun Amerika, dua kategori yang sulit ditentukan adalah kapan dan di mana (teror terjadi). Kalau siapa, mengapa, bagaimana, dan sebagainya itu mudah. Tapi kapan dan di mana, itu yang susah karena memang begitu. Tapi kalau warning dan alert bisa," ujar wakil ketua komisi I DPR, Tb Hasanudin kepada wartawan di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (10/9/2012).
Menurutnya, selain sulit mendeteksi kapan dan di mana teror terjadi, kelemahan intelejn juga terletak pada fungsi yang dibatasi hanya sampai menyimpulkan informasi. Sementara eksekusi diserahkan ke kepolisian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia membandingkan dengan pola intelejen Amerika yang mencari Osama selama 10 tahun, tetapi yang menangkap bukan mereka.
Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa pola kegiatan teroris dahulu lebih mudah dideteksi karena masih menggunakan cara-cara yang tradisional. Mengirim uang dengan wesel atau mengirim surat, dapat dengan mudah dideteksi. Tetapi sekarang kegiatan teror bisa dilakukan dalam ruangan tertutup.
"Jadi mari kita tingkatkan intelejen, dari sisi anggaran, kelengkapan dan pelatihan yang khusus. Perlu juga meningkatkan koordinasi yang lebih bagus dan intens antara data intelejen dengan ekskusi kepolisian," ucapnya.
(bal/lh)











































