Ketegasan Pimpinan DPR Jadi Kunci Moratorium Kunker ke Luar Negeri

Ketegasan Pimpinan DPR Jadi Kunci Moratorium Kunker ke Luar Negeri

Ahmad Toriq - detikNews
Senin, 10 Sep 2012 08:45 WIB
Ketegasan Pimpinan DPR Jadi Kunci Moratorium Kunker ke Luar Negeri
Jakarta - Usulan moratorium kunjungan kerja (kunker) DPR ke luar negeri kian menguat dengan dukungan beberapa fraksi. Namun, kunci dari pelaksanaan moratorium itu dinilai tetap ada di pimpinan DPR.

"(Moratorium) Itu tergantung pada ketegasan para pimpinan dewan. Itu kan wacananya sudah lama, tapi berhenti di wacana," kata Wakil Ketua MPR, Hadjriyanto Y Thohari, saat berbincang, Minggu (9/9/2012) malam.

Menurut Hajri, masyarakat sudah jengah dengan agenda kunker ke luar negeri para anggota dewan yang kerap tak jelas tujuan dan hasilnya. Apalagi kunker tersebut kerap diiringi kabar mengenai kegiatan wisata yang dilakukan anggota DPR.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini yang datang dari masyarakat bahkan bukan hanya kritikan, tapi sudah hujatan. Kunker ini juga sama sekali tidak terlihat sisi positifnya karena tidak transparan. Apalagi yang diketahui masyarakat hanya yang sifatnya piknik, seperti berlayar di sungai, hiburan dan sebagainya," ujarnya.

Oleh karenanya, Hajri berharap pimpinan DPR mendukung dan melakukan langkah nyata untuk moratorium kunker ke luar negeri. Apalagi, dia menambahkan, pimpinan DPR sebenarnya memiliki kuasa untuk tidak mengizinkan rencana anggota dewan ke luar negeri.

"Surat menyurat untuk kunker ini kan juga harus ditandatangani oleh pimpinan dewan. Kalau mereka tidak menandatangani exit permit, maka paspor dinas anggota DPR sebagai pejabat negara juga tidak bisa keluar," tuturnya.

Hajri mengatakan dengan melakukan hal itu, tentunya pimpinan dewan akan mendapat kritik. Namun, moratorium tetap harus diberlakukan untuk menyelamatkan kehormatan DPR sebagai institusi negara.

"Jika langkah itu dilakukan pasti pimpinan akan mendapat kritikan, bahkan kecaman. Namun itu perlu dilakukan untuk menyelamatkan kewibawaan dan kehormatan institusi yang sudah di titik nadir," imbuhnya.

(tor/rmd)


Berita Terkait