"Kita harapakan anggota DPR bertobat dan kembali ke jalan benar untuk memperjuangkan nasib rakyat," ujar pengamat politik dari UI Prof Iberamsjah saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (8/9/2012).
Menurut Iberamsjah, sebenarnya tidak ada yang salah dengan studi banding ke luar negeri. Hanya saja urgensinya benar-benar harus diperhatikan.
"Tidak dilarang, tapi urgensinya, kalau sekedar jalan-jalan buat apa? Kalau bisa diambil data di Indonesia kenapa tidak? Berulang kali DPR diingatkan, mentalnya sudah tidak bisa direhabiltasi, susah, mereka tidak punya sensitifitas," ungkapnya.
Iberamsjah sepakat dengan moratorium kunker ke luar negeri. Sebab hal itu dapat menghemat anggaran.
"Mereka jangan bohongi diri sendiri, mendingan berhemat uangnya untuk rakyat banyak. Kalau hanya untuk wisata, belanja, barang-barang di luar negeri lebih mahal dan barang-barang Indonesia lebih bagus. Itu seperti penyakit, temannya berangkat yang lain juga ingin berangkat," paparnya.
Iberamsjah menyarankan agar para wakil rakyat memperbaiki kinerja mereka dan mengabdi kepada rakyat. "Kembalilah ke jalan yang benar," tutupnya.
Kunker DPR ke luar negeri kembali menjadi sorotan publik karena kunjungan kerja anggota dewan dijadikan ajang plesiran. Yang terakhir, kunjungan kerja Baleg DPR ke Denmark dan Turki yang diselingi wisata menyusuri sungai Copenhagen di Denmark akan diproses BK DPR.
(ega/slm)











































