Wacana pencalonan Luthfi Hasan Ishaaq oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) merupakan strategi semata. Jadi tujuan sebenarnya adalah mendukung kandidat lain. Sementara sebagai partai, PKS menyadari bahwa elektabilitas Luthfi masih rendah.
"Ini adalah strategi semata. Jadi tujuan utamanya adalah mendukung kandidat lain, tapi sebagai partai mereka sadar Luthfi tingkat elektabilitasnya masih rendah. Kalau dia dukung Ical atau Prabowo ya tentu tidak bagus bagi partai. Ini untuk menaikkan bargaining positionnya," ujar Pengamat politik Charta Politika, Arya Fernandes, kepada detikcom, Kamis (6/9/2012) malam.
Menurutnya, wacana ini dilempar untuk mengetahui respon publik lewat umpan balik dari media. Sebenarnya, persoalan PKS saat ini adalan meningkatkan elektabilitas partainya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski begitu, Arya menilai Luthfi adalah orang yang bisa diterima oleh semua kelompok yang ada di partainya. "Keunggulan dia, dia berasal dari tokoh awal PKS, dia adalah salah satu tokoh tengah, maksudnya diterima oleh kelompok idealis maupun pragmatis-realistis di PKS. Tapi untuk skala nasional masih sangat baru. Orang baru kenal Luthfi ketika dia muncul sebagai Presiden PKS" jelas Arya.
Di sisi lain, menurut Arya kompetensi Lutfhi di tingkat partai masih perlu diuji. Pasalnya prestasi PKS ketika berada di tangan Lutfhi, tidak menggembirakan.
"Di tangan Luthfi, PKS prestasinya juga tidak terlalu menggembirakan, karena suara PKS juga tidak mengalami kenaikan yang signifikan. Kompetensinya masih harus diuji. Pengalaman adalah salah satu syarat yang penting bagi capres. Karena persolannya Indonesia itu kompleks dan luas. Tentu dikhawatirkan agak susah memegang kendali yang sangat luas." paparnya.
Terkait kemungkinan apakah PKS benar-benar akan mengajukan calon presiden 2014 dari kalangan internal partai, Arya memprediksi PKS akan mengambil langkah strategis. Langkah tersebut akan dipengaruhi oleh angka presidential threshold.
"Misal angkanya sekitar 20%. Kalau PKS diatas 10% mungkin PKS akan kukuh mencalonkan kader dari internal. Tapi kalau hanya kisaran 5% sampai 10% seperti 2009 lalu, mungkin PKS akan nebeng kandidat lain. Dia akan mencari aman yang akan menguntungkan secara elektoral agar PKS bisa bertahan," kata Arya.
Secara umum, Arya menilai belum ada tokoh PKS yang memenuhi dua unsur yang diperlukan untuk maju sebagai capres. "Jadi kalau dari PKS belum ada tokoh yang memenuhi dua unsur. Pertama, tingkat pengenalan publik merata secara nasional. Kedua, tingkat keterpilihan di atas 5%," pungkasnya.
(/fdn)











































