Menuju ke sekolah itu memakan waktu hingga 1,5 jam perjalanan dari Samarinda. Pada Kamis (6/9/2012) pagi, detikcom berkesempatan mengunjungi sekolah yang berada di KM 26 Jl Poros Samarinda-Tenggarong itu.
Dilihat sekilas, seolah tidak ada yang terjadi di dalam sekolah, yang pernah meraih Juara I Wiyata Mandala Tingkat Provinsi di bidang lingkungan sekolah terbaik itu. Namun begitu memasuki ke dalam areal bangunan sekolah, ratusan siswa dan siswi terlihat belajar di lantai. Pemandangan itu terlihat cukup mengejutkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yang lebih memperihatinkan, siswa kelas I belum pernah mengikuti proses belajar mengajar dilakukan di dalam kelas sejak awal masuk sekolah pertengahan Agustus 2012 lalu. Di sela jeda waktu pelajaran, sejumlah siswa sempat berbincang bersama detikcom.
"Dari pertama masuk, belum pernah kita belajar di dalam kelas karena kelasnya berdebu. Hampir sebulan kita belajar di luar kelas," kata siswa kelas IE, Wisnu.
Pengamatan detikcom, kondisi ruang belajar mereka, benar-benar disesaki debu kehitaman meski sudah dibersihkan berulang kali. Selain ruang belajar, debu juga menghinggapi kaca dan meja di ruang perpustakaan, ruang laboratorium hingga ruang dewan guru.
"Kalau belajar sambil duduk begini, pinggang sakit karena kan sedikit membungkuk kalau lagi menulis. Kadang-kadang sesak nafas, hidung perih. Susah mau konsentrasi belajar," ujar Wisnu.
"Kita tidak dikasih masker. Kata Ibu (Ibu guru), kita disuruh bawa dari rumah. Bawa sendiri-sendiri dari rumah," timpal Taufik, rekan sekelas Wisnu.
Polusi udara akibat debu aktivitas sejumlah perusahaan tambang yang mengelilingi SMPN 2 Loa Kulu itu, benar-benar telah mengganggu proses belajar mengajar siswa. Kondisi mengancam, mengancam kesehatan mereka yang rentan terkena penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA). Detikcom sendiri, merasakan hidung dan mata yang perih, setelah beberapa saat berada di dalam areal sekolah itu.
"Dari pada kita tidak menggelar proses belajar mengajar, nanti kita dinilai tidak bertanggungjawab kelangsungan pendidikan siswa. Kita tetap belajar mengajar, hanya waktunya yang dikurangi," kata Kasi Kurikulum SMPN 2, Sri Dalwanto.
"Siswa dan guru tidak kerasan karena ruang belajar mereka berdebu. Makanya belajar di luar ruang kelas. Kondisinya ya seperti ini," tambah guru Bimbingan Penyuluhan, Heri.
SMPN 2 Loa Kulu, memiliki lebih dari 450 siswa dengan 50 orang tenaga guru pengajar. Delapan belas ruang belajar bangunan sekolah itu, sudah tidak layak digunakan untuk menggelar proses belajar mengajar menyusul debu kehitaman yang mengotori meja, lantai serta dinding kelas.
"Sekolah ini berdiri sejak 1984. Kegiatan tambang ada sekitar 2009-2010. Tahun-tahun ini, debunya memang semakin parah. Meski sudah menyampaikan keluhan ke Dinas Pendidikan, Pemkab hingga DPRD Kukar dan perusahaan, tetap saja belum ada tindak lanjutnya," tegas Sri Dalwanto.
"Lokasi jalan hauling batu bara sendiri, berada kurang dari 500 meter. Itu kalau sudah ada aktivitas loading batu bara, debunya membubung tinggi berwarna kehitaman, terbawa angin mengarah ke sekolah ini," sebut Heri lagi.
Fakta yang ditemukan di lapangan ini, memang cukup membuat miris sekaligus menyedihkan. Mengingat, sekolah itu berada di kabupaten yang disebut-sebut sebagai kabupaten terkaya di Indonesia, akan potensi dan kekayaan sumber daya alam. Namun, keberadaan aktivitas pengelolaan batu bara, justru mengancam kesehatan kondisi kesehatan generasi penerus bangsa.
(try/try)











































