Tak terkecuali di Ibukota, Jakarta. Tidak sedikit warga yang mulai merasakan sukarnya mencari air, baik itu air bersih maupun air untuk kebutuhan lainnya.
Puluhan tambak di Marunda Cilincing Jakarta Utara mengalami kekeringan karena musim kemarau. Pemilik tambak mengeluhkan gagal panen yang menelan kerugian hingga Rp 20 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Warga-warga sudah mulai merasakan kesulitan mencari air bersih. Warga yang menggunakan air tanah di daerah Pegangsaan, Jakarta, Pusat, juga mengeluhkan air yang keluar dari kerannya tidak sederas dulu lagi.
"Sekarang isi bak mandi satu aja bisa 4 jam. Keluarnya kecil benar. Kalo dulu paling cuma setengah jam. Ngisinya juga gantian nggak bisa sekaligus," tutur Ari saat ditemui di rumahnya.
Perusahaan penyedia air bersih di Jakarta, PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja), menambah suplai tambahan dari luar. HAl ini dikareakan debit air mereka turun sebesar 15 persen.
"Kami juga melakukan penambahan suplai air dari Tangerang. Karena suplai air awal kami yang dari kanal Jatiluhur ke cawang mengalami penurunan karena saat ini Jakarta memang sedang mengalami kekeringan," jelas Communication and Social Responsibility Head PT PALYJA, Meyritha Maryani.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkiraakan musim penghujan di Indonesia akan mengalami keterlambatan. Fenomena El Nino mengurangi pasokan uap air dari Samudera Pasifik sebelah timur Indonesia.
(gah/)











































