Pengakuan tersebut diduga direkam di suatu tempat di Yogyakarta sehari sebelum dirinya dibawa menuju ke Jakarta. Bayu menceritakan mengenai awal muasal bagaimana dirinya bisa terlibat dalam aksi terorisme. Menurutnya, aksi terorisme yang dia lakukan diawali dengan pertemuannya dengan dua alumni Ponpes Ngruki, Muchsin dan Firman beberapa tahun yang silam.
"Pertama kali saya bertemu dengan Farhan pada 2012. Dia merupakan seorang alumni dari Moro, Filipina. Dia itu pulang membawa satu senjata api, satu granat dan 200 amunisi. Dia berperan sebagai eksekutor dalam aksi ini. Saya berperan sebagai pengintai dan survei lokasi," ucap Bayu dalam video, yang diputar di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Kamis (6/9/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya bukan alumni Ngruki, tapi saya kerja disana 2007 sampai 2010. Di Ngruki saya belajar mengenai Islam secara sebenar-benarnya. Disitu juga saya belajar untuk melakukan penyerangan terhadap polisi," tuturnya.
Sebelumnya tim Densus 88 Mabes Polri, berhasil menangkap seorang terduga teroris atas nama Firman. Firman ditangkap di rumah kerabatnya yang berada di komplek Perumahan Anyelir, Depok Jawa Barat pada Rabu (5/9).
Firman ditengarai terlibat penembakan pospam Lebaran, pelemparan granat dan penembakan pospol di Solo, Jawa Tengah. Polisi juga sudah mengamankan tersangka Bayu di Jawa Tengah. Sementara dua terduga teroris lain, Farhan dan Muchsin, tewas saat baku tembak dengan tim Densus 88.
Ponpes Ngruki mengakui Farhan dan Muchsin adalah santrinya. Namun kedua santri tersebut adalah santri yang bermasalah.
(riz/ega)










































