Dua anggota yang diturunkan itu adalah Hamidah Abdurrahman dan Edi Hasibuan. Keduanya tiba di Solo, Rabu (5/9/2012), untuk bertemu dengan Kapolresta Surakarta, meninjau lokasi pos polisi yang diserang teroris, serta lokasi penyergapan para terduga, serta bertemu dengan korban salah tangkap yang mengalami luka akibat dipukuli oleh Densus 88/AT.
"Tugas kami melakukan pengawasan tugas dan fungsi kepolisian, apakah selama menjalankan tugas sudah sesuai prosedur dan mekanisme. Semua hasil temuan kami di lapangan akan kami laporkan ke pimpinan kami untuk selanjutnya akan direkomendasikan kepada pimpinan Polri agar ke depan tidak terulang lagi kejadian seperti di Solo ini," ujar Hamidah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal lainnya, kata Hamidah, pihaknya juga juga akan menanyakan kepada Kapolresta Surakarta terkait langkah-langkah dan strategi yang telah dilakukan kepolisian setempat, sehingga serangan bisa berulang kali dilakukan.
"Kami juga akan mengumpulkan informasi dari korban dan keluarga korban salah tangkap. Karena ada informasi Densus salah masuk kamar dan memukuli mertua salah satu terduga teroris. Kami sangat menaruh perhatian tentang hal itu karena jangan sampai langkah-langkah kepolisian salah sasaran terhadap orang yang tidak bersalah atau tidak terlibat dalam sebuah kasus," lanjutnya.
Sementara itu Edi Hasibuan menambahkan, semua temuan di lapangan akan digunakan Kompolnas dan pimpinan Polri untuk melakukan evaluasi kinerja Densus 88/AT.
"Selain itu kemungkinan kami akan merekomendasikan agar ke depannya di penjagaan di pos pengamanan polisi harus dilengkapi dengan senjata. Selain agar kejadian seperti di Solo ini tidak terulang. Juga jangan sampai terjadi misalnya ada perampokan di jalan di dekat pos polisi, polisi yang berada di dalam pos tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak membawa senjata," ujar Edi Hasibuan.
(mbr/try)











































