Relawan ACT di Rohingya, Mulai Diikuti Intel Hingga Sambutan Jengkol

Relawan ACT di Rohingya, Mulai Diikuti Intel Hingga Sambutan Jengkol

- detikNews
Rabu, 05 Sep 2012 10:19 WIB
Jakarta - Relawan Aksi Tanggap Cepat (ACT), Doddy C Hidayat, berangkat seorang diri ke Myanmar dalam misi kemanusiaan untuk membantu masyarakat Rohingya. Saat pertama kali masuk ke perkampungan Aung Mingalar Ward, Provinsi Sittwe, Doddy disambut masyarakat Rohingya yang langsung mengerubunginya.

"Suka dukanya ya ada saat berangkat ke sana (Rohingya)," ujar Doddy di kantor ACT, Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Selasa (4/8/2012).

Setelah tiba dari perjalanan dengan menggunakan pesawat dari kota Yangon menuju Sittwe, Doddy langsung menuju ke wilayah Rohingya. Saat itu di Sittwe sedang musim hujan. Seringnya turun hujan membuat jalan-jalan menuju Aung Mingalar Ward yang sebagian besar terbuat dari tanah menjadi becek. Doddy menyebutkan dirinya langsung dapat masuk ke dalam pekampungan setelah mendapatkan koneksi dengan pejabat lokal setempat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat memasuki perkampungan tersebut, Doddy melihat kondisi masyarkat Rohingya sungguh memprihatinkan. Dalam sebuah percakapan dengan menggunakan penerjemah, Doddy mengetahui untuk jatah makanan, setiap orang mendapatkan satu kaleng beras setiap harinya.

"Kalengnya itu mirip kaleng kemasan ikan sarden. Lauknya tinggal mereka yang cari." kata Doddy.

Pada umumnya, rumah-rumah penduduk Rohingya terbuat dari kayu. Doddy menceritakan beberapa penampungan pengungsi yang dinilainya tidak layak karena terbuat dari terpal dan harus di isi dengan 10 kepala keluarga. Balita yang orang tuanya tidak mendapatkan tempat harus rela tidur di pinggir bangunan atau rumah warga lainnya dengan beralaskan kardus.

"Wilayah ini adalah satu-satunya desa yang selamat dari pembakaran. Ratusan penduduknya adalah pengungsi dari tempat lain," terangnya.

Menurut Doddy, kondisi keamanan di Sittwe saat kedatangannya sudah mulai kondusif. Namun pemerintah setempat tetap memberlakukan jam malam dari pukul 19.00 hingga pukul 7.00 WIB pagi. Doddy juga yang berada di kampung Aung Mingalar Ward hanya bisa sampai pada sore hari karena harus bergegas pulang
menuju hotelnya.

Dalam setiap gerakannya, Doddy mengaku selalu diikuti oleh intel setempat. Bahkan sejak dari bandara Sittwe saat kedatangannya.

"Ya ada yang ikutin kita, intel sana," ujarnya. Namun intel tersebut tidak mengganggu aktivitas Doddy.

Selama empat hari berada di pemukiman Rohingya, Doddy berangkat bersama Arif, warga Amerika Serikat (AS) yang bekerja di Islamic Relief Inggris, dan seorang pemandu serta penerjemah bernama Muhammad. Menurut Doddy, dia akhirnya memutuskan pergi menjadi relawan di Rohingya karena wajahnya yang mirip orang Myanmar.

Selain itu, Doddy menyebutkan soal masakan yaang ada di Rohingnya. Dirinya harus berpuasa setengah hari dan makan di perkampungan Rohingya karena merasa tidak yakin dengan masakan hotel atau di sekitar hotel yang dinilainya tidak halal. Bahkan sebelum berangkat ke lokasi pengungsian, biasanya Doddy hanya mengkonsumsi cokelat.

"Makannya ya sore hari bersama pengungsi dan bisanya dirapel menjadi makan pagi dan makan siang," kata doddy sambil tertawa.

Untuk menghormati tamu yang datang, masyarakat Rohingnya biasanya masak makanan. Doddy menyebut bahwa masakan untuk menyabut tamu di Rohingya adalah dengan menyediakan jengkol. Jengkol tersebut dianggap sebagai makanan untuk tamu yang dihormati.

"Jadi ada tamu militer yang datang berpangkat kolonel, mereka menyediakan jengkol. Tapi saat saya mau ajak foto bersama dia nya langsung pergi," katanya.

(fiq/mok)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads