Hal ini dikemukakan dalam MOU dengan pihak Menteri Perhubungan Republik Indonesia, E.E Mangindaan dengan Pemerintah Australia yang diwakili oleh Menteri Perhubungan Australia, Anthony Albanese.
"Australia dan Indonesia memiliki kepentingan bersama di bidang kemanusiaan guna mewujudkan kemampuan SAR yang memadai bagi orang-orang yang berlayar di wilayah kedua negara. Perhatian di bidang kemanusian ini didasari oleh kewajiban internasional dan sejarah panjang kerjasama SAR kedua negara di bawah naungan Nota Kesepahaman (MOU) Kerjasama Sektor Transportasi," ujar Kepala Puskom Publik Kementrian Perhubungan, Bambang S Ervan, dalam siaran pers, Selasa (4/9/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
I. Pertukaran pegawai antar Badan SAR kedua negara, BASARNAS dan AMSA,
untuk meningkatkan pertukaran pengetahuan dan keahlian.
ii. Peningkatan sistem informasi pelacakan kapal yang disediakan untuk
BASARNAS guna mengidentifikasi kapal-kapal yang dapat membantu dalam
operasi SAR.
iii.Peningkatan teknologi komunikasi satelit maritime untuk Indonesia
guna dipergunakan dalam operasi SAR, dengan tujuan untuk
melaksanakan koordinasi operasional yang lebih baik dengan
kapal-kapal dagang yang melintas.
iv. Pelatihan-pelatihan tambahan di bidang SAR.
v. Pembentukan forum SAR rutin untuk saling bertukar informasi dan
praktek yang berlaku secara internasional.
vi. Memfasilitasi perizinan yang cepat bagi pesawat Australia untuk
beroperasi di ruang udara Indonesia dan untuk mendarat dalam
rangka pengisian bahan bakar di lapangan terbang di Indonesia
pada waktu melaksanakan operasi SAR bekerjasama dengan Indonesia.
Bambang menjelaskan Paket kerjasama ini telah tertuang dalam ITSAP. Diharapkan terus berlangsung agar tercipta kondisi yang saling menguntungkan antar kedua negara.
"Kegiatan ini akan dilaksanakan melalui Paket Bantuan Keselamatan Transportasi kepada Indonesia yang dikenal dengan ITSAP, yang telah berjalan dengan baik selama lima tahun," tutup Bambang.
(ndu/mad)











































