Dalam catatan detikcom, Selasa (4/9/2012), terdapat nama Ignatius Sandyawan Sumardi yang juga tokoh LSM Ciliwung Merdeka. Selain mengurusi masalah Kali Ciliwung, dia juga concern terhadap masalah kemiskinan di Ibukota, di mana Ciliwung diindetikkan dengan kemiskinan Jakarta.
Pria kelahiran Sulawesi Selatan ini cukup dikenal sebagai pejuang HAM. Pada 1998, dia menjadi penggagas terbentuknya tim gabungan pencari fakta tragedi kekerasan Mei '98.
Pria yang akrab disapa Romo Sandy ini juga pernah mendapat penghargaan Yap Thiam Hien Award pada tahun 1996. Pada tahun 2000 bersama rekan-rekannya dia mendirikan Yayasan Ciliwung Merdeka. Dia bergerak untuk memajukan masyarakat bantaran Kali Ciliwung lewat pendidikan.
Calon komisioner Komnas HAM lainnya ialah Erna Ratnaningsih. Wanita lulusan University of Canberra, Australia, ini sempat menjabat posisi Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Dirinya kerap membela orang-orang miskin yang memiliki masalah dengan hukum.
Tidak jarang dia berbicara pedas terhadap kebijakan pemerintah. Dalam kasus kekerasan Cikeusik, Januari 2011 silam, dia menyatakan keberatan atas putusan hakim yang dianggap ringan terhadap pelaku pembunuhan.
Aktivis agraria juga ikut meramaikan perebutan jabatan itu yaitu anggota Dewan Pakar Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Dianto Bachriadi. Pada tahun 2005 silam, dia bersama rekan-rekannya mendirikan Agraria Resource Center yang peduli terhadap masalah pertanahan.
Dianto juga sering mengkritik pemerintah terkait kasus sengketa lahan antara rakyat melawan pengusaha dan sering dipanggil menjadi saksi ahli dalam tiap persidangan tentang sengketa lahan.
Perebutan jabatan komisioner juga diramaikan dengan kehadiran Ketua Pusat Studi Hak Asasi Manusia (Pusham) Universitas Surabaya, Dian Noeswantari. Dia bersama Pusham Universitas Surabaya mengatakan, bahwa Jawa Timur merupakan penyuplai TKI terbanyak pada tahun 2008 yaitu sebanyak 53 ribu orang.
Angka yang tinggi itu didominasi oleh perempuan. Akibat itu dirinya merasa miris, apalagi pemerintah dianggapnya belum maksimal melindungi TKI.
Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Hafid Abas juga akan bertarung menuju Komnas HAM. Sebagai guru besar dirinya sering menjadi pembicara di berbagai seminar dan forum informal. Permasalahan HAM dan ideologi Pancasila selalu menjadi fokus perhatiannya. Dia menyatakan sampai saat ini bangsa Indonesia belum hancur karena adanya ideologi Pancasila.
(/)











































