"Muchsin sebelum pergi ke Solo menitip KTP dan ATM. Dia meminta kalau ada apa-apa KTP-nya dibakar saja," kata ayah Muchsin, Muslim saat ditemui di rumahnya di Batu Ampar, Jaktim, Senin (3/9/2012).
Muchsin pergi ke Solo pada 26 Agustus lalu. Dia pamit hendak mengurus yayasan di Solo. Yayasan itu tengah mengolah bisnis ikan. KTP itu diberikan pada kakaknya sebelum keberangkatannya. Pesan SMS masuk sebelum peristiwa penyergapan Densus 88 pada Jumat (31/8). Muchsin dan kawannya Farhan diduga melakukan penyerangan pos polisi yang menewaskan 1 orang petugas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu menurut tetangga, Muchsin memang pendiam. Tapi kalau bertemu tetangga selalu menyapa. Bahkan pada lebaran kemarin, tetangga sempat saling menyapa dengan Muchsin dan bermaaf-maafan.
"Sebelum lebaran juga dia pernah membawa rekan-rekannya di pesantren ke rumahnya. Tapi cuma makan-makan saja," imbuh tetangga Muchsin, Ade.
Ibu rumah tangga yang rumahnya tak jauh dari Muchsin itu menuturkan, sehari-hari di Jakarta, kala pulang dari pesantren, Muchsin berpenampilan biasa saja. Tak ada kata-kata atau perilaku yang mencerminkan dengan kekerasan.
"Dia juga mengaku sudah lulus dari pesantren dan kerja di restoran yang ada mess-nya. Dan dia tinggal di sana," tambah Ade.
(edo/ndr)











































