Dari Dedengkot LSM Hingga Pendeta Incar Kursi Komnas HAM

Rekam Jejak Calon Anggota Komnas HAM (2)

Dari Dedengkot LSM Hingga Pendeta Incar Kursi Komnas HAM

Andi Saputra - detikNews
Senin, 03 Sep 2012 12:18 WIB
Dari Dedengkot LSM Hingga Pendeta Incar Kursi Komnas HAM
Gedung Komnas HAM (ari saputra/detikcom)
Jakarta -

Dalam kantong saku DPR telah ada 30 nama calon komisioner Komnas HAM. Selain akademisi dan tokoh gay, terdapat pula nama-nama dedengkot Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) hingga pendeta yang tertarik menjabat anggota Komnas HAM untuk 5 tahun ke depan.

Dari catatan detikcom, Senin (3/9/2012) terdapat beberapa nama tokoh LSM yang muncul. Seperti Research Deputy Lembaga Kajian Demokrasi dan Hak Asasi (Demos), Roichatul Aswidah. Alumnus Universitas Gadjah Mada 1994 ini pernah menyoroti kinerja DPR dalam membuat UU Pertambangan Mineral dan Batu Bara.

Menurut perempuan kalahiran 19 Maret 1970 ini, UU Minerba tidak mencerminkan hak masyarakat untuk ikut menentukan wilayah pertambangan maupun pemberian izin. Padahal, UU tersebut memuat sanksi pidana yang kemudian bisa dilihat bakal menimbulkan masalah di lapangan. Roichatul mencontohkan kasus di Bima.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Muncul pula nama tokoh Perkumpulan Inisiatif Masyarakat Partisipatif untuk Transisi Keadilan (Imparsial), Oto Nur Abdullah. Aktivis yang memulai advokasi di Aceh ini kencang bersuara tentang isu-isu militerisme. Apalagi dia kini bergabung di LSM bentukan Munir, LSM yang sangat kritis terhadap isu-isu militer.

Tidak hanya aktivis LSM yang masih muda, aktivis LSM yang telah cukup umur pun ikut meramaikan bursa calon Komisioner Komnas HAM. Sebut saja staf Dewan Pengurus YLBHI di penghujung 1980-an, Paul Serak Baut. Ayah dua orang anak kelahiran Flores ini sempat menjadi anggota DPR dari PDIP pada 1999-2004. Karier politiknya berlanjut dengan mencalonkan diri menjadi bupati dalam Pilkada Manggarai Barat 2010 namun gagal.

Dia juga sempat mengajar di berbagai kampus dengan konsentrasi mengajar filsafat. Kariernya di Universitas Atma Jaya diberhentikan dengan tidak hormat pada 1979 karena aktif dalam gerakan Petisi 50.

Ada pula staff Badan Litbang Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans), Natalius Pigai. Selain sebagai PNS dia juga menjadi pengajar di berbagai kampus. Beberapa kali dia memberikan keterangan ahli di Mahkamah Konstitusi (MK) untuk menyangkut UU Ketenagarkerjaan dan isu-isu buruh.

Dari kalangan pemuka agama tercatat Pendeta GBKP Medan Mindawati Perangin. Lahir pada 3 Oktober 1963, dia sempat menjadi Member of Central Committee of the World Council of Churches (Dewan Gereja Dunia) pada 2006 lalu.

Mengawali pendidikan keagamaan di BD Equivalent- Jakarta Seminary pada 1987, lalu dia menyelesaikan pendidikan S3 dari Drew University, Madison, USA dengan disertasi The Interrelationships of Human, Plant and Animal As Presented in the Hebrew Bible.

(asp/nrl)



Berita Terkait